Selasa, 15 Maret 2022

NOVEL WAKTU

 


Waktu


 







 















Nama : Rizki Ramadhani 

Pengantar

Puji dan Syukur selalu kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena limpahan rahmat dan karunia-nya.Saya mampu menyelesaikan novel dengan judul ‘Waktu’. Novel ini berkisah tentang sebuah keluarga yang hidup didaerah Aceh.

Di dalam menulis novel ini, saya sadar bahwa saya tidak akan bisa menyelesaikannya tanpa ada bantuan dari berbagai pihak. Mereka telah menyumbangkan energi dan pikirannya di dalam penyusunan novel sehingga memiliki alur seperti sekarang ini.

Sebagai menusia kami sadar bahwa novel yang kami buat masih belum pantas jika disebut sebagai sebuah karya yang sempurna. Kami sadar tulisan kami masih banyak memiliki kesalahan, baik dari tata bahasa maupun teknik penulisan itu sendiri. Maka kami meminta adanya masukan yang membangun agar kami semakin termovitasi untuk menjadi lebih baik dan lebih memperbaiki kualitas novel kami selanjutnya.

Benar kata orang, perjalanan dan kematangan hidup seseorang dipandang dari apa yang mereka lewati. Setiap pengalaman baik yang dirasakan sendiri ataupun kisah dari orang menjadi bahan penentu pelajaran dan tuntutan yang berharga bagi kehidupan kita.

            Yang tertera disini merupakan pem-visualisasian dari kisah Indonesia. Kebijaksanaan dalam memutuskan suatu perkara, perlindungan akan kenyamanan dan keselamatan orang diatas diri sendiri. Memaknai setiap kejadian dengan pikiran dan ucapan.

Ucapan terima kasih atas kelancaran dan pengorbanan waktu untuk diri sendiri yang sebesar-besarnya. Kesehatan, ide, serta pemahaman materi oleh Tuhan Yang Maha Esa dan juga Ibu Hj. Sunarti, M.Pd menjadi pendorong semangat dalam penulisan ini. Terima kasih.

Selamat menikmati… 


 

 










“ Alam tak hanya sekedar memberikan kesejukan sepanjang masa,namun alam dapat menggambil segalanya “


 

DAFTAR ISI

 

Pengantar. 2

DAFTAR ISI. 5

1. Aku & Keluargaku. 6

2. Hadiah Dari Pa Ustad. 9

3. Kebaikan Akan Dibalas Kebaikan. 15

4. Praktek Sholat & Sepeda. 20

5. Khusyu. 27

6. Pergi ke Pasar. 30

7. Sepeda Untuk Imam.. 34

8. Waktu Yang di Tunggu & Waktu Yang Tidak di Inginkan   37

Tentang Penulis. 43

 

 


1. Aku & Keluargaku

Sekitar pertengahan Desember 2004 di Aceh. Aku beserta seluruh keluargaku tampak begitu bahagia karena ayahku dapat kembali berkumpul setelah sekian lama bekerja dan tak dapat pulang kerumah. Oh iya ayahku bekerja menjadi mekanik kapal yang berbulan-bulan ikut di kapal yang berlayar. Aku juga memiliki 2 kakak laki laki dan 1 adik perempuan dan tentunya aku memiliki ibu yang amat sangat cantik yang sering aku panggil ummi,

 

Adzan Subuh dari Masjid begitu jelas terdengar bersahutan satu sama lain, orang-orang sudah sibuk bersiap melangkahkan kakinya menuju masjid, sama halnya ketika seisi rumah sedang sibuk mempersiapkan diri untuk menunaikan sholat subuh berjamaah di- masjid, semua sudah tampak siap kecuali aku yang masih sangat nikmat menikmati tidurku. “Bangun,bangun,bangun Imam dasar tukang tidur” ucap kakak keduaku Amam, 

“Ummi, Imam susah dibangunkan” teriak Amam mengadu, 

kemudian datanglah kakak pertamaku yaitu Iman (Iman dan Amam merupakan adik- kakak berbeda 2 tahun), “ada apa ini ribut ribut” ucap Iman memasuki kamar Imam sehabis ia berwudhu, 

“biasa ini kak, Imam susah kalo dibangunkan Sholat subuh” kata Amam. 

“yasudah kita siram pakai air saja supaya Imam bangun ya” seru Iman menakut-nakuti Imam supaya bangun, 

“kita hitung sampai tiga ya kalau masih belum bangun kita siram nih” ucap Iman kembali, 

“satuuu,duaaa,tigaaaa” tampaknya Imam masih belum bangun, alhasil kedua kakaknya pun menyiram Imam dengan segelas air, alhasil Imam pun bangun dan langsung marah kepada kedua kakaknya tersebut, terdengar suara yang berisik dari kamar Imam, abi dan ummi beserta si kecil Aminah pun masuk ke kamarnya Imam, “ada apa ini ribut ribut begini, bukannya siap siap sholat subuh berjamaah di masjid” ucap ummi, 

“ini ummi Imam susah dibangunkan” jawab Amam, “yasudah ayo sekarang siap siap ikut abi pergi ke masjid” seru abi, 

“bentar abi Imam belum wudhu” kata Imam yang masih setengah sadar, “yasudah cepat wudhu dulu kita tunggu di depan ya” jawab abi.

Kemudian Merekapun berangkat pergi sholat berjamaah di masjid, meninggalkan ummi dan Aminah yang sholat subuh di rumah.

 

Selesai sholat subuh di masjid, abi,Iman,Amam beserta Imam pulang kerumah untuk melaksanakan tadarus al-qur’an yang memang selalu dilaksanakan sehabis sholat subuh, kali ini tadarus akan dipimpin oleh abi, setelah sampai di rumah, Aminah bersama ummi sudah menyiapkan al-qur’an, dan tadarus pun dimulai, “ayo sudah siap semua kan” tanya abi, 

“sudah,” jawab mereka semua, 

tampak semuanya sudah siap dan tadarus pun dimulai, setelah hampir satu jam akhirnya tadarus pun selesai.

 

Pagi harinya, seperti kebanyakan anak se-usianya, Imam berangkat sekolah, saat ini Imam sudah kelas 2 sekolah dasar, di sekolah, Imam termasuk siswa yang nakal, ia sering menjahili teman teman di kelasnya.

Siang harinya selepas pulang sekolah, Imam akan menghabiskan waktunya untuk mengaji dan bermain, kadang ia bermain petak umpet, sepakbola atau apapun itu asal ia bersama dengan teman – teman nya.


 

2. Hadiah Dari Pa Ustad

Siang hari waktu itu Imam sedang bermain sepakbola bersama teman – temannya, karena begitu asik bermain, tak terasa waktu hampir memasuki waktu adzan ashar, kemudian ummi menyusuli Imam yang sedang bermain tersebut “Immaamm, pulang mam, Sebentar lagi ashar, kamu harus sholat ashar” teriak ummi dari samping lapangan, 

mendengar hal tersebut Imam pun langsung lari menuju rumahnya, 

“ummi kenapa baru panggil Imam jam segini, kan Imam bisa telat sholatnya, ummi” ucap Imam

“ya habisnya kamu keasikan bermain sih sampai gak tau waktu” kata ummi,

“yasudah sana cepat mandi dulu” ucap ummi kembali.

“baik ummi” Imam pun bersegera mandi.

Setelah selesai mandi Imam pun bersiap siap untuk berangkat ke masjid untuk sholat ashar,

“abi,ummi Imam pamit dulu assalamualaikum” ucap Imam sambil berlari,

Setelah sampai di surau tersebut, benar sekali tampaknya semua teman – teman Imam sudah berkumpul dan sudah siap – siap, untungnya Imam belum begitu terlambat karena saat Imam sampai masjid tersebut adzan baru berkumandang, Imam beserta teman – temannya bersegera bersiap – siap sholat berjamaah yang dipimpin guru ngajinya yaitu ustad Somad, selepas solat ashar, ada pengajian tambahan, pengajian pun dimulai, waktu itu kita diwajibkan menyetor hafalan surat – surat pendek, 

“ayo siapa yang sudah hafal surat pendek nya sini setor ke bapa” seru pak ustad Somad,

 tampak riuh suasana disana karena anak – anak kecil yang begitu bergembira karena setiap anak yang dapat menyelesaikan setoran nya, biasanya akan diberi hadiah oleh pak ustad Somad, 

Tampak Rihad, teman dekatnya Imam, maju paling dahulu

“saya dulu pak” ucap Rihad

“baik, sini Rihad menghadap ke bapak” ucap pak ustad 

“mau menyetor surat apa?” tanya pak ustad,

“surat al-Kautsar pak” seru Rihad kembali,

“baik ayo segera mulai” kata pa ustad

“bismillahirahmannirohim, inna a’tainakal-kausar, fa salli lirabbika wan-har, inna syani’aka huwal-abtar, shadaqallahul adzim” yeey sudah pak ucap Rihad, 

“Alhamdulillah, nih hadiah dari bapak (pak ustad memberi hadiah permen kepada Rihad)”

“Alhamdulillah terimakasih pak” ucap Rihad sambil kembali ke tempatnya,

“ayo siapa lagi yang mau dapat hadiah” tanya pa ustad,

“saya pak” “saya dulu pak” “saya pak” saut anak – anak saling berebut ingin menyetorkan hafalan nya, tetapi Imam masih sibuk menghafal ditempat nya, kemudian Rihad pun mendatangi nya,

“aduh kamu masih belum hafal ya mam” tanya Rihad,

“sedikit lagi nih, sudah makanya jangan mengganggu kamu hid” jawab Imam

“siapa yang mau mengganggu, aku cuma bertanya” ucap Rihad sambil membuka bungkus permen hadiah dari pak ustad

“wah kayanya enak tuh hid, sini buat aku aja permen nya” ucap Imam sambil ingin merebut permen yang sedang dipegang rihad

“gaboleh dong, kalo kamu mau, kamu harus hafal dulu surat pendek” ucap Rihad kembali

“yasudah tenang aja nanti aku pasti bisa kok” ucap Imam kembali,

setelah semuanya sudah menyetorkan surat pendek nya kemudian tiba saatnya giliran Imam,

“pa saya juga mau setor nih” ucap Imam sambil maju kedepan,

“mau menyetorkan surat apa, Imam?” tanya pak ustad, 

“surat yang tadi sama seperti Rihad pak” ucap Imam polos,

“oh surat al-Kautsar ya, yasudah ayo coba bacakan” seru pak ustad,

“baik pak” jawab Imam kembali

“bismillahirahmannirohim, inna a’tainakal-kausar, fa salli lirabbika wan-har, inna syani’aka huwal-abtar, shadaqallahul adzim”

 Imam selesai membacakan surat pendek tersebut, kemudian pak ustad pun memberi hadiah kepada Imam

“alhamdulillah, ini permennya ambil” ucap pak ustad, 

“baik pa terimakasih” ucap Imam sambil berjalan kembali ke tempatnya.

“Baik pengajian hari ini kita cukupkan sekian Alhamdulillah semuanya sudah menyetorkan  hafalan surat pendek nya, sebelum pulang marilah kita ucap Hamdalah terlebih dahulu , alhamdulillahhirobilalamin” semua tampak begitu bergembira. lalu semuanya pulang kembali ke rumahnya masing – masing, setiba sampai di rumahnya, Imam langsung bercerita ke ummi

“ ummi, ummi, Imam tadi diberi hadiah lo sama pak ustad” ucap Imam

“hadiah apa, ko bisa?” tanya ummi

“permen, ummi, tadi Imam bisa membacakan surat pendek” jawab Imam 

“wah hebat anak ummi, emangnya tadi Imam membaca surat pendek apa?” tanya ummi “Imam membaca surat al-Kautsar ummi” jawab Imam kembali

“coba ummi pingin dengar juga” kata ummi 

“baik ummi, bismillahirahmannirohim, inna a’tainakal-kausar, fa salli lirabbika wan-har, inna syani’aka huwal-abtar, shadaqallahul adzim, bagaimana ummi bener kan Imam bisa” ucap Imam kembali, 

“mmm pintar sekali anak ummi, yang rajin lagi ya mengajinya” ucap ummi kembali

“baik, ummi” ucap Imam.

“oh iya, abi kemana ummi?, daritadi Imam gak ngeliat abi” tanya Imam,

“abi sedang gotong royong bersama warga membetulkan jalanan yang bolong, kedua kakakmu juga ikut bersama abi” ucap ummi 

“dari kapan memangnya ummi?” tanya Imam 

“paling sebentar lagi juga datang” jawab ummi,

tak lama setelah itu abi beserta Amam dan Iman pun datang ke rumah

“assalamualaikum” terdengar suara mereka bertiga dari luar, 

“waalaikumsalam” jawab Imam dan ummi di dalam, 

“pasti pada capek ya, ummi ambilkan air untuk kalian” ucap ummi,

sambil berjalan hendak mengambil air minum di meja makan, “iya ummi, capek sekali, tadi banyak jalan yang harus ditambal” jawab abi, 

“nih minum nya” ucap ummi kembali, “wah terima kasih ummi” jawab mereka bertiga, “yasudah kalo begitu ummi kembali ke dapur dulu ya” ucap ummi,

Aminah yang sedari tadi mengikuti ummi pun kembali mengikuti ummi ke dapur,

“Eh sebentar lagi mau masuk waktu maghrib nih ayo siap – siap berangkat ke masjid” ucap abi kepada ketiga anaknya tersebut, 

“baik abi, ayo kita siap siap dulu, mam,dri” ucap Amam


3. Kebaikan Akan Dibalas Kebaikan

Kemudian Adzan Maghrib pun terdengar bersahut – sahutan satu sama lain, Imam bersama kedua kakaknya dan abinya pergi ke masjid bersama – sama,

Setelah selesai sholat maghrib, mereka masih diam di masjid sembari menunggu sholat isya kembali dilaksanakan,

Setelah sholat isya, mereka pulang dan ketika di jalan pulang mereka bertiga bertemu dengan kakek – kakek yang sedang duduk di pinggiran jalan, melihat seorang kakek – kakek duduk sendirian di pinggir jalan di malam hari, spontan abi pun menghampiri dan menanyakan, 

“assalamualaikum kek” ucap abi, 

“waalaikum salam”, jawab kakek tersebut, “kakek kenapa duduk disini, malam malam begini?” tanya abi, 

“kakek lapar nak, belum makan sedari kemarin” jawab kakek tersebut, 

sontak abi dan anak – anak nya pun merasa kasihan, lalu abi pun berinisiatif untuk mengambil makanan yang ada di rumah dan memberikannya kepada kakek tersebut, “Imam,Iman,Amam sana pulang ke rumah dan bungkuskan nasi dan lauknya untuk kakek ini” ucap abi menyuruh anak – anaknya, 

“baik abi akan kami ambilkan” ucap Iman

Mereka bertiga pun berlari kerumah nya untuk mengambil nasi, sesampainya di rumah, ummi yang sedang menyiapkan makanan pun kaget karena ketiga anak nya datang ke rumah dengan berlari – larian, 

“ assalamualaikum” ucap mereka bertiga dari luar sambil masuk kedalam, 

“ waalaikum salam, kenapa kalian berlari – lari” ucap ummi, 

“itu umi ada kakek – kakek kelaparan, kata abi kita disuruh mengambil makanan, untuknya” ucap Iman, 

“yasudah sebentar ummi siapkan dulu ya makanannya” ucap ummi sembari membungkuskan nasi dan lauk nya,

“ini makanannya, siapa yang mau mengantarkannya?” tanya ummi, 

“biar Iman saja ummi” ucap Iman, 

“yasudah ini hati – hati ya” ucap ummi, 

“baiklah Iman pergi dulu ya, assalamualaikum”

Iman pun mengantarkan makanan tersebut, sesampainya disana kakek tersebut begitu terharu sampai meneteskan air mata,

“ini kek, makanannya pasti enak karena buatan ummi, hehe” ucap Iman,

“terima kasih banyak cu, kakek terharu sekali” ucap kakek tersebut,

“yasudah kalau begitu makanannya dihabiskan ya kek, kami pulang dulu” ucap abi, 

“iya nak, terima kasih banyak, sepertinya kamu sudah mengajarkan anak- anak mu dengan baik, semoga kelak anak – anak mu dapat menjadi orang – orang yang berguna dan semoga semua kebaikan mu dibalas lebih oleh yang di atas” ucap kakek tersebut, “aamiin kek, yasudah kita pergi dulu ya kek, assalamualaikum”

Sesampainya di rumah, Iman dan abi sudah langsung disiapkan makanan di meja, mereka semuapun makan bersama pada malam itu

“baik sebelum makan, kita berdoa dulu ya, berdoa dipersilahkan” ucap abi memimpin do’a, 

setelah selesai berdoa mereka pun mengambil lauk pauk untuk dimakan bersama nasi yang masih hangat tersebut, akan tetapi Imam tidak kebagian lauk tersebut, 

“yah Imam gakebagian lauknya nih, pasti gara-gara tadi dikasihkan ke kakek-kakek yang tadi” gerutu Imam, 

“ehhh jangan begitu Imam, ini ambil saja lauk yang ummi, lagipula jika kita melakukan suatu kebaikan, maka insyaaallah kita dapat balasan yang lebih dari allah” ucap ummi,

 Seketika Imam pun terdiam dan semua melanjutkan makan malam bersama tersebut.

Pagi harinya saat adzan subuh berkumandang, Iman dan Amam pun ingin membangunkan Imam tetapi kali ini Imam sudah terbangun, kemudian mereka pun bersiap – siap untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama, hari itu pun mereka menjalankan aktivitas seperti biasanya, tetapi kali ini berbeda dengan hari – hari sebelumnya dimana saat hendak mengaji kali ini Imam begitu bersemangat untuk mengaji, rupanya Imam masih penasaran dengan yang dikatakan ummi nya tentang jika kita berbuat kebaikan maka kita dapat mendapat balasan yang lebih baik lagi oleh allah, kemudian saat selesai mengaji Imam pun masih terdiam di surau tersebut, sontak pak ustad pun bertanya kepada Imam “Imam, kenapa belum pulang?” tanya pa ustad tersebut,

lalu Imam pun menjawab “iya pak ustad, Imam boleh bertanya ke pa ustad?” ucap Imam, 

“ ya boleh dong mam, mau tanya apa coba sini, barangkali bapa bisa menjawab nya” ucap pa ustad tersebut 

“apakah benar kalau kita berbuat baik maka kita akan mendapatkan balasan yang lebih baik lagi?” tanya Imam

Satu lagi bedanya dengan anak-anak lain, Imam anak yang banyak bertanya. Meskipun sering bandel, Imam memiliki pola pikir yang berbeda dengan anak-anak seumuran. Membuat orang dewasa di sekitarnya terkadang mendesah, “Kok bisa?

Imam suka mengamati dan meniru-niru orang dewasa. Mengingat detail dengan baik. Dan pandai sekali menghubung-hubungkan sesuatu, entah itu berbagai kejadian, atau hanya kalimat-kalimat orang yang didengarnya. Cara berpikir Imam amat lateral. Ia berpikir dengan cara yang berbeda

“apakah benar kalau kita berbuat baik, maka allah akan membalas kebaikan kita dengan yang lebih?” tanya Imam

“ya pasti akan dibalas oleh allah tetapi mungkin tidak akan langsung dibalas langsung di dunia bisa jadi akan jadi balasan di akhirat nanti” jawab pak ustad

“oh begitu ya pak, berarti kalau kita banyak berbuat kebaikan, kita juga bisa masuk surga dong pak” ucap Imam

“ya insyaallah jika kita ikhlas berbuat kebaikan tersebut” ucap pak ustad

“jadi, sekarang Imam paham kan?” tanya pak ustad

“paham pa, terima kasih” ucap Imam

“oh iya minggu ini ada praktek hafalan sholat, kamu harus siap- siap ya” ucap pak ustad

“baik pak, insyaallah” ucap Imam


 

4. Praktek Sholat & Sepeda

Malam harinya keluarga abi Imran tampak berbahagia dan bersama – sama sedang makan malam sehabis tadarus al-qur’an setelah sholat isya, Keluarga Abi Imran memang bahagia. Apalagi yang kurang? Empat Anak yang saleh dan salehah. Kehidupan yang berkecukupan. Baik bertetangga Dan bersahaja. Apa adanya. Mereka tinggal di komplek perumahan sederhana. Dekat sekali dengan pantai. Lhok Nga memang tepat di tubir pantai. Pantai yang indah. Rumah mereka paling berjarak empat Ratus meter dari pantai. Komplek itu seperti perumahan di seluruh Kota Lhok Nga, religius dan bersahabat.Ummi sehari-hari bekerja menjahit dan membordir pakaian pesanan tetangga. Abi seperti yang dibilang sebelumnya bekerja di tanker perusahaan minyak. Setiap tiga bulan baru kembali merapat di pelabuhan Arun. Kemudian pulang ke Lhok Nga selama dua minggu, Sebelum balik lagi berlayar mengelilingi lautan. Terus saja begitu sepanjang tahun, kecuali pas ramadhan dan lebaran. Abi cuti panjang, satu bulan.

Di malam yang bahagia itu Imam menceritakan bahwa minggu ini ia akan praktek sholat di sekolahnya, lalu abi dan ummi pun berjanji akan memberi hadiah jika Imam berhasil menyelesaikan ujian praktek tersebut.

Malam yang bahagia itu sekejap terasa hambar lagi ketika abi berkata akan kembali bekerja dan kembali meninggalkan rumah tersebut, kemudian abi menyuruh Iman untuk menjaga ummi beserta adik – adik nya

“besok abi harus kembali bekerja, kalian jaga diri baik – baik ya, harus nurut sama ummi” ucap abi

“abi memang nya gabisa besok lusa aja perginya?” tanya Imam polos

“gabisa dong nanti abi dipecat terus gabisa ngasih kamu hadiah dong” ucap abi bercanda

“abi titip ummi dan adik – adikmu ya ndri” ucap abi ke Iman

“baik abi” ucap Iman

Iman tipikal anak sulung yang bisa diandalkan. Umurnya 14 tahun. Meski masih kelas dua SMP/Mts, Iman bisa menggantikan peran Ummi dengan baik, juga partner Ummi kalau Abi tidak ada di rumah seperti sekarang, ikut menjaga adik-adiknya.

 

Siang itu sehabis pulang sekolah, Imam harus buru – buru datang ke tempat pengajian nya karena iya terlambat setelah harus menyelesaikan piket dulu di sekolahnya.

 Imam mengaduk-aduk lemari pakaiannya (yang digabung dengan lemari pakaian Iman dan Amam); tega sekali ia membuat lipatan pakaian kakak-kakaknya porak-poranda.

“Ummi! Baju ngaji Imam kok nggak ada!” Imam berteriak sambil terus mengaduk.

“Kan Ummi sudah taruh di atas meja!” Ummi balas berteriak. Ummi lagi di ruang depan. Membordir pesanan ustadz Somad.

“Eh iya!” Imam nyengir. Buru-buru menuju meja belajarnya. 

 

Meninggalkan isi lemari yang jungkir-balik. Menemukan baju TPA berwarna biru. Imam dengan cepat mengenakan pakaian ngaji nya

“Yaa, Ummi napa pecinya yang ini.... Imam sering gatal-gatal kalo pakai yang ini....” Imam mendekati Ummi. Menunjuk pecinya yang tengah dipakainya

“Itu karena kamu malas cuci rambut, sayang!” Ummi terus konsentrasi pada bordirannya.

“Imam juga sering kepanasan....” Imam mendaftar keluhan berikut

“Kan kamu bisa lepas nanti kalau terasa panas!” Ummi menjawab seadanya. Imam tidak mendengarkan. Ia sudah beranjak menuju pintu keluar.

“Eh, nanti Imam langsung main ya, Mi!” Imam berteriak dari pintu depan.

Ummi mengangguk. Mana Imam bisa lihat anggukan Ummi? Ia sudah membuka pintu rumah. Ah, kalau Ummi diam tidak-berteriak itu berarti oke.

“Daa Ummi; //assalamualaikum//!” Imam berteriak langsung lari. 

Ummi tersenyum menjawab salam Imam pelan. Anak kecil laki lakinya selalu begitu. Pamit selalu lari sambil berteriak mengucap salam.

 

Imam berlari-lari kecil. Peci birunya bergoyang. Bukan sekadar karena gerak tubuhnya, tetapi juga karena desir angin laut yang menerpa. Penghujung bulan akhir tahun ini, angin laut bertiup lebih kencang. Udara lebih lembab dari biasanya.

Imam sudah terlambat. Tadi sepulang sekolah ia piket dulu. Di sekolahnya memang begitu. Piket membersihkan ruangan kelas dilakukan setelah pulang. Imam masih kelas dua, pulangnya pukul setengah sebelas, sekolah seperempat hari.

sekarang sudah jam sebelas lewat lima. Buru-buru Imam ke surau yang terletak dua ratus meter dari rumahnya. Jadwal harian belajar mengaji TPA dengan ustadz Somad.

 

Kata ustadz Somad, muslim yang baik selalu bisa menghargai waktu. Imam tidak tahu apa artinya menghargai waktu; Yang ia tahu, saat ustadz Somad menjelaskan, itu berarti kita harus datang tepat waktu, nggak boleh terlambat, Imam berusaha datang tidak pernah telat. Seperti sekarang, ia lari lebih cepat. Tasnya bergoyang-goyang mengikuti irama tubuh. Dahi Imam ber-keringatan.

 

Suara anak-anak yang membaca Iqra terdengar dari kejauhan. Imam nyengir. Ya.... ia telat lagi.

 

Tiba di halaman surau setengah menit kemudian. Buru-buru masuk ke surau. Ustadz Somad menatapnya.

“Imam tadi piket....!” Imam menjelaskan tanpa diminta. Menyeka dahinya. Ustadz hanya tersenyum. Dia tahu setiap hari Senin Imam pasti datang terlambat. Semua anak yang lain juga telat kalau lagi jadwal piket di sekolah. Bedanya dengan Imam; Imam selalu berkepentingan menjelaskan. Meskipun penjelasannya itu-itu juga.

“Tapi entar kalau Abi sudah pulang; Imam nggak bakal telat lagi....”Imam berkata sambil mengambil rihal. Duduk di sebelah ustadz.Ustadz Rahman yang sejenak tadi sibuk mengawasi dua puluh anak sepantaran Imam yang sedang membaca Iqra masing-masing; 

Menoleh ke arah Imam, bertanya lewat tatapan. Tidak telat lagi?

“Karena Abi janji beliin Imam sepeda! Hadiah kalau Imam berhasil mengahafalkan hafalan shalat Imam! Jadi wuss... Imam pasti nggak telat lagi!” Imam menyeringai bangga. sembuka iqra-nya.

“Memangnya Imam sudah hafal bacaan shalatnya?” Ustadz bertanya lembut, tersenyum.

“B-e-l-u-m....” Imam menggeleng lucunya.

ustadz Rahman tersenyum lagi.

Imam mulai membaca Iqranya. Nanti seperti ngaji dengan Ummi, ia juga akan nyetor dengan ustadz Somad.Tetapi ramai-ramai. Ustadz ngajar-nya serempak di papan tulis

Ustad, kenapa ya Imam sering kebolak-balik?” Imam nyeletuk. mengangkat kepalanya dari buku iqra di atas rihal. Ingat sesuatu. 

Ustadz Somad menatapnya? Kebolak-balik? Oo, bacaan shalat.

“Biar nggak kebolak-balik kamu mesti menghafalnya berkali-kali.... 

baca berkali-kali.... Entar nggak lagi! Entar pasti terbiasa.” Ustadz menjelaskan.“

Imam sudah baca berkali-kali, kok.... Tetap saja begitu!”

Ustadz tersenyum. Semua anak memang punya masalah seperti ini kalau menghafal bacaan shalat. Terbalik-balik. 

Bedanya dengan Imam ya pertanyaan selanjutnya ini, “Ustadz, emangnya nggak boleh baca kebolak-balik?”

“Eh.... Nggak boleh, dong Imam!”

“Kenapa nggak boleh? Kan semuanya tetap dibaca.... Lengkap!”

Imam memasang wajah seolah-olah ikut berpikir serius. Pertanyaan itu juga serius sekali sebenarnya.

Ustadz Somad menyeringai. Kan susah kalau dia mesti jelasin shalat Itu “ibadah besar”. Jadi mesti sesuai dengan tuntunan Rasul. Tidak Boleh ada yang beda. Beda sedikit bisa jadi bid’ah. Lah bid’ah itu Apaan? Pasti Imam bertanya balik. Dan urusan semakin ribet. bukan. Bukan ustadz Somadn tidak mau menjelaskan panjang lebar. 

tetapi mengajari anak kecil seperti Imam, harus ada tekniknya. Atau kalau tidak, akan terjadi mall-praktek mendidik anak-anak.

“Eh.... Kalau Imam pakai kaos-kaki kebolak-balik warnanya boleh nggak?”

“Boleh.... Boleh-boleh saja.... Imam pernah kok!” Imam menjawab serius (ia memang pernah, maksudnya nggak sengaja salah pasang terus diketawain).“Eh.... Kalau Imam pakai sepatu di kepala... Terus peci di kaki bisa gak kebolak-balik begitu?” Ustadz Somad mencari analog lain. Menyesal dengan contoh sebelumnya. Jelas-jelas dia sedang menghadapi Imam.

Imam sekarang terdiam. Berpikir. Kemudian nyengir. Menggeleng pelan. Ustadz Somad tersenyum. Imam tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Ia selalu bisa mengambil kesimpulan sendiri.

Eh, tetapi ustadz kan belum jelasin bagaimana caranya agar nggak kebolak-balik? Imam hendak bertanya lagi. Terlambat, ustadz Somad sudah mengetuk papan tulisnya. Tanda mereka akan beramai-ramai mendengarkan ustad bercerita. Pertanyaan itu tersimpan dalam hati.






5. Khusyu

“Pernah ada sahabat Rasul, saking khusyuknya shalat, kalajengking besar menggigit punggungnya dia tidak merasakan sama sekali.... Ya kalajengking besar....” Ustadz Somad menggambar kalajengking itu dengan gerakan tangannya. Bersuara seperti capit kalajengking yang menganga.

Anak-anak bergidik. Ustadz Rahman pintar bercerita. Setiap habis membaca Iqra bersama-sama, biasanya ustadz Somadn akan mengajari mereka banyak hal, selain mengaji. Doa-doa harian; Hafalan-hafalan surat; bernyanyi. Favorit Imam dan teman-temannya tentu saja “cerita”. Sekarang ustadz bercerita soal bagaimana khusuknya shalat Rasul dan sahabat-sahabatnya.

“Kenapa dia nggak kerasa sakit; kan badannya jadi bengkak?” Kalau anak lain bergidik, Imam justeru mengacungkan tangan bertanya. memandang ingin tahu.

Ustadz Somad menelan ludah.

“Eh, karena orang yang khusuk pikirannya selalu fokus. Pikirannya satu! Misalnya Imam lagi asyik main bola di pantai. Pikirannya cuma satu kan, nendang-nendang bola. Meski kaki misalnya keseleo sakit, Imam tetap main. Meski hujan-hujanan, Imam juga tetap main. bahkan dipanggil Ummi, Imam juga nggak mendengarkan, kan....”

anak-anak lain tertawa. Imam nyengir.

 

“Nah, jadi kalian shalat harus khusyuk. Harus satu pikirannya.... andaikata ada suara ribut diseki-tar, tetap khusuk. Ada suara Gedebak-gedebuk, tetap khusuk. Jangan bergerak. Siapa di sini yang kalau shalat di masjid sering gangguin temannya?”

Semua anak-anak menunjuk Imam yang jahil.Ustadz Somad tersenyum. Imam hanya menyeringai galak.

mereka mendengarkan lanjutan cerita tersebut lima belas menit lagi.

Kemudian ustadz Somad menutup pengajian TPA mereka dengan membaca doa bersama. Keras-keras.

“Anak-anak sebentar!” Ustadz meminta perhatian teman-teman 

Imam yang sibuk membereskan rihal dan tas masing-masing. Bersiap pulang. Mereka menoleh. “Besok kita libur!” Ustadz Somad tersenyum mengatakan itu. Mukanya riang; tidak seperti biasanya kalau mengumumkan soal libur. Ustadz Somad kan tidak suka kata-kata libur.

“Hore!!” teman-teman Imam lebih senang lagi.

Melanjutkan berbenah siap pulang. Kemudian Imam bertanya

“Memangnya ustadz mau kemana?” Imam mendekat bertanya, ia melepas pecinya tuh kan bener, terasa panas!).

“Ke Meulaboh!”

“Ooo iya.... Ustadz mau nikah ya?” Imam teringat ucapan Ummi beberapa hari lalu. Bordiran pakaian Ummi tadi pagi juga buat 

Bawaan ustadz melamar.Ustadz Somad tersipu mukanya.

“Asyik! Pasti ada kenduri besar-besaran kan?” Imam berseru riang. Yang beginian memang hobinya. “Pasti ada arak-arakan... uang receh yang dilempar... banyak manisan!” Imam menghitung semua hal menyenangkan tersebut dengan jemarinya.









 

 



 

 

 

 

6. Pergi ke Pasar

Hari-hari berjalan begitu cepat, sekarang sudah hari sabtu, di hari ini biasanya ummi pergi belanja ke pasar.

 

Ummi keluar dari dalam rumah. Mengenakan kerudung warna ungu. bersiap hendak pergi ke pasar. Pagi sabtu, jadwal belanja mingguan ummi seperti biasa.

 

“Ih, Ummi kenapa pakai warna itu?”kata Iman yang apa mau dikata meskipun bacaannya kelas berat tetaplah remaja serba tanggung, segera berkomentar saat melihat warna kerudung yang dipakai Ummi. keberatan.

“Nggak pa-pa kan? Kerudung Ummi yang lain lagi kotor! Yang tersisa tinggal ini....” Ummi memegang ujung kerudung ungunya. mematut penampilan sambil menatap tak mengerti Iman.

“Ummi bisa pakai Warna apa saja. Asal jangan warna yang ini. Sebentar ya, Iman ambilin....” Iman buru-buru berdiri. Meletakkan bukunya di atas balai bambu. Lari masuk ke dalam rumah tanpa ba-bi-bu.

 

“Emangnya kenapa, kalau Ummi pakai kerudung warna ungu?” ummi bertanya penasaran pada Iman sambil menerima kerudung dari tangan sulungnya.

“Yeee, Ummi masak nggak tahu. Ungu itu warna janda! Pertanda buruk!” Iman menjelaskan serius sekali.

Warna janda? Bahkan Imam yang sedang menghafal ikut tertawa. apalagi Amam, langsung tertawa lebar. Ia juga baru tahu. Ungu warna apa? Warna Janda? 

“Ah, terus kenapa?”ummi nyengir. Berpikiran sama dengan Amam, memangnya kenapa kalau warna janda? Ummi menatap gurat wajah Iman yang amat serius Ummi mengalah. Ya sudahlah! Iman belakangan memang suka mengomentari penampilan orang lain. Ummi saja sudah tiga kali terpaksa berganti kostum selama sebulan ini pas hendak ke pasar. namanya juga ABG.

“Pemerhati pesyen!” Itu kata Amam sok-gaul sok-paham pakai bahasa Inggris beberapa minggu lalu, sirik ngomel kepada kak Iman yang hobi berkomentar tentang pakaian teman-teman Aminah yang bertamu ke rumah.

 

Ummi keluar lagi dari bingkai pintu, sudah berganti kerudung

Iman tersenyum senang. Mengacungkan jempol tangan.

 

“Imam, kamu kok belum siap siap?” Ummi menegur Imam, melangkah mendekat.

“Wa-bi-ja-li-ka.... U., u... Um-mi” Imam menoleh bingung ke arah ummi. Ia menghentikan gerakan ayunan.

“Kamu kan ikut Ummi ke pasar sekarang!”

“Eh.... Nggak ah, Imam menghafal saja hari ini!” Imam menggeleng buru-buru.

“Kamu harus ikut, sayang.... Ummi mau beli itu— i-t-u tuh!” Ummi membisik pelan “sepeda, sepeda”

Imam  menatap tak mengerti dua kejap. Tetapi segera berteriak beberapa detik berikutnya. Meloncat dari ayunan....

 

“UMMI MAU BELI SEPEDA?” Imam berseru senang.

“Sepeda buat Imam?” Imam sudah mencengkeram baju Ummi.

Wajahnya yang lucu sungguh menggemaskan. Rambut ikalnya yang pirang bergerak-gerak. Mata hijaunya menyala. Ummi mengangguk.

“Hore! ....Sebentar!” Imam sudah melesat lari ke dalam rumah. meletakkan buku hafalan bacaan shalatnya sembarangan. 

“Imam boleh pilih hadiah sepedanya sendiri kan? 

ummi mengangguk. Sekarang malah Imam yang menyeret tangan umminya keluar pekarangan rumah. Semangat!

 

Mereka akan ke pasar Lhok Nga. Membeli sepeda hadiah hafalan bacaan shalat Imam (di samping belanjaan rutin mingguan Ummi lainnya). Sepeda  yang dijanjikan Ummi sebulan lalu. Sepeda yang membuatnya semangat belajar menghafal bacaan shalat mingguminggu terakhir.

 

Pasar Lhok Nga ramai sekali. Sepanjang jalan tadi, Imam kencang memegang baju Ummi. Ia jelas tidak mau kehilangan jejak kaki ummi. 

Itulah yang tadi menjelaskan kenapa Imam pertama kali buruburu menyeringai malas saat diajak Ummi ke pasar.

 

Ia pernah tertinggal dari Ummi. Dan sepanjang pagi itu Imam berteriak-teriak mencari Ummi di seluruh pasar. Panik. Takut. Imam benar-benar takut dengan kata-kata sendirian. Beruntung ada yang mengenali Imam. Berbaik hati mengantarnya pulang. Ummi juga waktu itu panik sekali. Sempat-sempatnya lapor ke pos polisi pasar. 

Dicari kemana-mana, eh tahunya yang di cari sudah makan siang di rumah. Amam menggodanya sepanjang minggu. Buronan polisi!


 

7. Sepeda Untuk Imam

Ummi dan Imam pun sampai di tokonya koh Ahok, toko ini menjual berbagai peralatan dan juga sepeda, karena sudah jadi langganan ummi, koh Ahok menawarkan sepeda dengan harga separuh harga

“Ah, nggak usah. Biar saya bayar penuh Koh Ahok!” Ummi menggeleng pelan. Tersenyum menolak.

“Tidaklah.... Kalau untuk hadiah hafalan shalat ini, Ummi Siti bayar separuh saja, haiya!

Imam nyengir, menarik-narik baju Ummi, menatap tak mengerti 

‘Ummi napa sih, mau dikasih setengah harga gak mau, kan sayang.’ tetapi Ummi tidak memperhatikannya.

“Buat kamu kan.... Ah iya nama kamu Imam kan? Anak yang manis, 

 

“ Koh Ahok mengusap-usap kepala Imam. Imam tersenyum lucu.

“Semoga kalo begitu malah gratis” ucap Imam hehehe

mereka memang selalu ke sini kalau membeli sepeda/ peralatan. Sedikit di antara toko sepeda yang ada di Lhok Nga. Tadi Ummi benar-benar membiarkan Imam memilih sendiri sepedanya. Sekarang tinggal membayar. Dan sepertinya Koh Acan yang dari ujung rambut hingga ujung kaki China tulen, berbaik hati untuk kesekian kalinya.

“Janganlah Koh. Saya jadi tidak enak hati.... Dulu waktu Iman beli 

 

Koh Ahok juga hanya mau dibayar separuh,Kali ini biarlah Imam bayar penuh....” Ummi mengeluarkan dompet dari tas. Mengambil uang seharga sepeda tersebut.

“Nggak... Haiya, saya nggak mungkinlah pasang harga mahal kalau buat hadiah hafalan shalat! Nggak mungkinlah....

“Kata Abi Imran dulu, shalat itu kan untuk amm-mar mak-rup na-khi mhung-khar-” Koh Ahok kesulitan mengeja ujung kalimatnya. “Saya senang sekali anak-anak kecil belajar shalat.... Itu berarti Lhok Nga akan jadi lebih baik kan.... Apalagi anak-anak Abi Usman dan Ummi Siti sudah seperti anak saya sendiri ini....” Koh Ahok menggeleng tegas menatap uang itu.

 

Ummi memaksa menyerahkan uang penuh. Koh Ahok sebaliknya memaksa mengembalikan separuh-nya. Dan Imam dengan sukarela, dengan tampang menggemaskan ringan-tangan menerima separuh uang itu dari tangan Koh Ahok.

Ummi menyeringai. Mendelik ke arah Imam. Ummi Ingin menyuruh Imam mengembalikannya. Tetapi Imam, lihatlah, justru menggenggam uang itu erat-erat. Ya sudahlah! Seharusnya ia tadi pergi ke toko lain saja kalau tahu begini.... Masalahnya mau ke toko mana lagi? Suaminya kan selalu menyuruh dia belanja di sini. Koh Ahok sudah seperti kakak-adik dengan suaminya.

“Daaa Koh Acan! Khamsia....” Imam menyeringai. Koh Acan balas melambai tertawa lebar. Khamsia!

Kemudian mereka melanjutkan belanja lainnya.

 













 

8. Waktu Yang di Tunggu & Waktu Yang Tidak di Inginkan

Waktu yang ditunggu-tunggu Imam akhirnya tiba juga, di hari itu ia akan melakukan ujian praktek sholatnya dan iapun akan mendapat hadiah jika berhasil, akan tetapi hari yang ditunggu-tunggu itu tampaknya akan menjadi hari yang tak pernah diinginkan oleh Imam

 

Pagi itu hari Minggu tanggal 26 Desember 2004 saat dimana semua orang di Aceh dan sekitarnya merasakan begitu dahsyatnya kuasa Tuhan, terjadinya tsunami yang memperingatkan semua umat manusia agar senantiasa menjaga alam dan melakukan hal-hal yang positif dan menjauhi segala hal-hal yang negatif.

 

Pagi itu Imam sedang bersiap-siap untuk melaksanakan kegiatan ujian praktek sholat, terlihat Imam seperti masih sedang menghafal hafalan sholatnya, tapi disamping itu terlihat raut wajah Imam yang begitu ceria begitu riang apalagi jika Imam berhasil menyelesaikan praktek sholat tersebut maka Imam akan diberikan hadiah dari abi dan ummi nya, namun Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, tanah seakan berguncang membuat Imam,dan yang lainnya panik di rumah tersebut.

 

“Ummi, umii, Imam takut sekali ummi” teriak Imam

“tenang Imam, ummi disini bersama Imam” ucap ummi

“bagaimana ini ummi” tanya Imam

“sini peluk ummi, sambil pelan pelan kita keluar rumah ya” ucap ummi

“Takut ummi, Imam takut” kata Imam

“ Imam harus percaya sama ummi, ayo segera keluar rumah, ayo keluar” ucap ummi

“Baik ummi” kata Imam

 

Imam pun berhasil keluar dari rumah dan ternyata semua kakak dan adiknya semua sudah ada di luar rumah mereka semua begitu panik dan takut, tapi untungnya gempa tersebut tak berlangsung lama, dan ummi pun coba menenangkan mereka dengan memeluk mereka semua

 

Dengan wajah yang ketakutan Imam bertanya kepada ummi nya

“ummi, apakah praktek sholat nya tetap jadi?” tanya Imam

“Sepertinya jadi apalagi gempa nya sudah tidak ada” ucap ummi

“Tapi Imam masih takut ummi” ucap Imam

“kamu gausah takut mam, insya Allah, Allah akan melindungi kita semua” ucap kakaknya Iman

“Bener tuh kata kakak kamu, yasudah ayo pergi” ucap ummi

“baik ummi” ucap Imam

“kalian tetap di rumah saja ya dan ummi minta tolong kepada Iman untuk menjaga adik adiknya di rumah” ucap ummi

“Baik ummi” ucap Iman

 

Imam dan ummi pun pergi ketempat Imam akan ujian praktik, ya tempatnya disekolah Imam, disekitar halaman sekolahnya, semua tampak semangat dan ada juga yang terlihat gugup, melihat temannya yang gugup Imam pun jadi gugup tetapi untungnya ummi dapat menenangkan Imam, teman-teman Imam banyak yang berhasil, membuat Imam pun optimis akan menyelesaikan ujian praktik tersebut dengan baik.

 

Tibalah saat giliran Imam akan praktik, Imam dengan sedikit gugup memulai dengan takbiratul ihram, semua dilalui Imam dengan baik, akan tetapi saat Imam sedang sujud terdengar suara gemuruh, tanah kembali berguncang tetapi sekarang terasa lebih parah daripada yang dirasakan keluarga Imam pada sebelumnya, terlihat semua orang panik berhamburan meninggalkan tempat itu, akan tetapi Imam dengan khusyuk nya terus melanjutkan praktik sholat tersebut, Imam teringat ucapan pak ustad agar selalu fokus untuk menyelesaikan sholat dan tidak boleh terganggu oleh suara suara yang disekitar.

 

Tiba-tiba air pantai naik ke daratan, menghancurkan semua yang ada di daerah tersebut menenggelamkan semua yang ada di sana, menghanyutkan semua yang ada, juga menghanyutkan dan menenggelamkan Imam yang sedang ujian praktik tersebut,

 

Saat itu Imam bermimpi bertemu ummi, Iman, Amam dan Aminah akan tetapi ia tak bisa menyentuhnya dan mereka pun takbisa melihat Imam, mereka semua seakan pergi ketempat yang lebih indah ya mungkin mereka semua sudah disurga sekarang,

 

Imam tersadar dari pingsannya, ia melihat sekitarnya terlihat semua sudah hancur, ia melihat teman-temannya sudah tidak ada yang sadarkan diri, 2 hari Imam terjebak dalam puing bangunan tangan kanan nya terjepit dan tak bisa digerakkan, Imam meminta pertolongan, Imam berteriak akan tetapi suara Imam mungkin sudah habis, bahkan tenaganya pun mungkin sudah habis, tak banyak yang ia bisa lakukan akhirnya Imam pun kembali pingsan

 

Bangun dari pingsannya, ternyata Imam sudah berada di ruangan seperti di rumah sakit, rupanya Imam sudah mendapatkan pertolongan.

 

Dilain tempat Abi yang sedang bekerja terlihat panik karena tempat kelahirannya tempat semua keluarganya habis disapu air, abi panik dan ingin buru buru menyusul kesana, akan tetapi abi harus naik kendaraan untuk kesana, iapun bersegera pergi ke stasiun atau apalah itu yang penting tempat transportasi menuju ke desanya, tetapi semua kendaraan sudah penuh, untungnya ada seorang relawan kemanusiaan bertanya dan mengajak abi untuk pergi bersama dengannya

 

“Maaf bapak, apakah bapak gak kebagian kendaraan?” tanya seorang relawan

“iya saya tidak kebagian kendaraan, padahal saya harus melihat keadaan keluarga saya disana” ucap Abi

“yasudah kalau mau bapak ikut dengan truk kita, akan tetapi akan bersedak sedakan dengan para relawan yang lain, bagaimana apakah bapak mau?” tanya relawan tersebut

“Mau pak, saya ikut” Abi menjawab dengan spontan

 

Sesampainya disana Abi langsung menuju ke tempat dimana rumahnya dibangun, akan tetapi semua sudah rata, bertemulah abi dengan koh Ahok, orang yang ia anggap sebagai kakak sendiri, koh Ahok bercerita bahwa semua keluarganya sudah tiada yang tersisa hanya Imam saja, mendengar kabar itu, lutut abi langsung jatuh ke tanah, rasanya lemas sekali, air mata pun sudah jatuh dari matanya, abi sudah tidak kuat menahan tangisnya, kemudian koh Ahok mencoba menenangkan Abi dan berkata “sudahlah, kamu harus bisa menerima ini semua, kamu harus bisa bersyukur Tuhan masih membiarkan Imam hidup, berbeda dengan saya yang sudah ditinggal pergi semua keluarga saya” ucap koh Ahok

“jadi, kamu sekarang tinggal sebatang kara, maafkan saya, saya harus segera menemui Imam” ucap Abi

“yasudah ayo saya antar ke tempat Imam dirawat” ucap koh Ahok

 

Mereka berdua pun lari dengan kencang untuk segera menemui Imam,

Ditempat perawatan ternyata Imam sudah sadar dan begitu terkejutnya Imam karena tangan kanannya tinggal sepotong, ternyata tangan kanan Imam harus diamputasi karena jika tidak diamputasi takutnya keadaan tangannya lebih parah.

Sesampainya di ruang perawatan abi pun langsung bertemu Imam dan memeluk Imam dengan kencang, tangisan tak terbendung dari bapak dan anak tersebut, Abi pun bersyukur masih bisa bertemu dan memiliki Imam. 

Saat sedang berpelukan kemudian dengan nada suara yang lemas Imam bertanya

“abi,Imam bermimpi Ummi, ka Iman, ka Amam dan Aminah pergi ninggalin Imam, katanya mereka pergi ke surga, kok Imam gak diajak?” tanya Imam polos

“kamu gak diajak karena Allah masih pingin kamu hidup di dunia” ucap abi

“berarti Ummi, ka Iman , ka Amam dan Aminah sudah meninggal? Tanya Imam penasaran

“iya….” Jawab abi sambil meneteskan air matanya kembali.

 

 

 

Tentang Penulis

Lahir pada 02 November 2003 di Cimahi diberi nama Rizki Ramadhani. Saat menulis novel ini masih seorang anak berusia 18 tahun dan sudah menjadi siswa kelas 12 di SMA Negeri 2 Cimahi mempunyai hobi bermain futsal.seorang anak pertama dari tiga bersaudara yang memiliki cita-cita menjadi direktur utama dan membahagiakan orang tua.








7 komentar:

  1. Cerita yang diambil dan diangkat menarik. Semoga bisa menjadi novel yang baik.

    BalasHapus
  2. Novel akang ini sudah baik dan benar 👍🏻

    BalasHapus
  3. Sangat menarik, Panjang banget pasti cape ngetiknya ya?

    BalasHapus
  4. judulnya singkat tapi menarik, dan cerita yang disuguhkan juga bagus.

    BalasHapus
  5. Teks kerangka novelnya bagus, struktur dan kaidah kebahasaannya sudah sesuai, bahasa yang digunakan mudah untuk dimengerti, topik yang dibahas pun sudah cukup menarik.

    BalasHapus
  6. Novelnya mudah di mengerti, dari segi bahasa dan kosakatanya

    BalasHapus

NOVEL WAKTU

  Waktu     Nama : Rizki Ramadhani  Kelas  : XII MIPA 10 No absen : 29 Pengantar ...