Waktu
Nama : Rizki Ramadhani
Pengantar
Puji dan Syukur selalu
kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena limpahan rahmat dan
karunia-nya.Saya mampu menyelesaikan novel dengan judul ‘Waktu’. Novel ini berkisah
tentang sebuah keluarga yang hidup didaerah Aceh.
Di dalam menulis novel
ini, saya sadar bahwa saya tidak akan bisa menyelesaikannya tanpa ada bantuan
dari berbagai pihak. Mereka telah menyumbangkan energi dan pikirannya di dalam
penyusunan novel sehingga memiliki alur seperti sekarang ini.
Sebagai menusia kami
sadar bahwa novel yang kami buat masih belum pantas jika disebut sebagai sebuah
karya yang sempurna. Kami sadar tulisan kami masih banyak memiliki kesalahan,
baik dari tata bahasa maupun teknik penulisan itu sendiri. Maka kami meminta
adanya masukan yang membangun agar kami semakin termovitasi untuk menjadi lebih
baik dan lebih memperbaiki kualitas novel kami selanjutnya.
Benar kata orang,
perjalanan dan kematangan hidup seseorang dipandang dari apa yang mereka
lewati. Setiap pengalaman baik yang dirasakan sendiri ataupun kisah dari orang
menjadi bahan penentu pelajaran dan tuntutan yang berharga bagi kehidupan kita.
Yang tertera disini merupakan pem-visualisasian dari kisah Indonesia. Kebijaksanaan dalam memutuskan suatu perkara, perlindungan akan kenyamanan dan keselamatan orang diatas diri sendiri. Memaknai setiap kejadian dengan pikiran dan ucapan.
Ucapan terima kasih atas
kelancaran dan pengorbanan waktu untuk diri sendiri yang sebesar-besarnya.
Kesehatan, ide, serta pemahaman materi oleh Tuhan Yang Maha Esa dan juga Ibu Hj. Sunarti, M.Pd menjadi pendorong semangat dalam penulisan ini. Terima
kasih.
Selamat menikmati…
“ Alam tak hanya sekedar memberikan kesejukan sepanjang
masa,namun alam dapat menggambil segalanya “
DAFTAR ISI
3. Kebaikan Akan
Dibalas Kebaikan
8. Waktu Yang di
Tunggu & Waktu Yang Tidak di Inginkan
1. Aku & Keluargaku
Sekitar pertengahan Desember 2004 di Aceh. Aku beserta seluruh
keluargaku tampak begitu bahagia karena ayahku dapat kembali berkumpul setelah
sekian lama bekerja dan tak dapat pulang kerumah. Oh iya ayahku bekerja menjadi
mekanik kapal yang berbulan-bulan ikut di kapal yang berlayar. Aku juga
memiliki 2 kakak laki laki dan 1 adik perempuan dan tentunya aku memiliki ibu
yang amat sangat cantik yang sering aku panggil ummi,
Adzan Subuh dari Masjid begitu jelas terdengar bersahutan satu
sama lain, orang-orang sudah sibuk bersiap melangkahkan kakinya menuju masjid,
sama halnya ketika seisi rumah sedang sibuk mempersiapkan diri untuk menunaikan
sholat subuh berjamaah di- masjid, semua sudah tampak siap kecuali aku yang
masih sangat nikmat menikmati tidurku. “Bangun,bangun,bangun Imam dasar tukang
tidur” ucap kakak keduaku Amam,
“Ummi, Imam susah dibangunkan” teriak Amam mengadu,
kemudian datanglah kakak pertamaku yaitu Iman (Iman dan Amam
merupakan adik- kakak berbeda 2 tahun), “ada apa ini ribut ribut” ucap Iman
memasuki kamar Imam sehabis ia berwudhu,
“biasa ini kak, Imam susah kalo dibangunkan Sholat subuh” kata Amam.
“yasudah kita siram pakai air saja supaya Imam bangun ya” seru Iman
menakut-nakuti Imam supaya bangun,
“kita hitung sampai tiga ya kalau masih belum bangun kita siram
nih” ucap Iman kembali,
“satuuu,duaaa,tigaaaa” tampaknya Imam masih belum bangun, alhasil
kedua kakaknya pun menyiram Imam dengan segelas air, alhasil Imam pun bangun
dan langsung marah kepada kedua kakaknya tersebut, terdengar suara yang berisik
dari kamar Imam, abi dan ummi beserta si kecil Aminah pun masuk ke kamarnya Imam,
“ada apa ini ribut ribut begini, bukannya siap siap sholat subuh berjamaah di
masjid” ucap ummi,
“ini ummi Imam susah dibangunkan” jawab Amam, “yasudah ayo
sekarang siap siap ikut abi pergi ke masjid” seru abi,
“bentar abi Imam belum wudhu” kata Imam yang masih setengah sadar,
“yasudah cepat wudhu dulu kita tunggu di depan ya” jawab abi.
Kemudian Merekapun berangkat pergi sholat berjamaah di masjid,
meninggalkan ummi dan Aminah yang sholat subuh di rumah.
Selesai sholat subuh di masjid, abi,Iman,Amam beserta Imam pulang
kerumah untuk melaksanakan tadarus al-qur’an yang memang selalu dilaksanakan
sehabis sholat subuh, kali ini tadarus akan dipimpin oleh abi, setelah sampai
di rumah, Aminah bersama ummi sudah menyiapkan al-qur’an, dan tadarus pun
dimulai, “ayo sudah siap semua kan” tanya abi,
“sudah,” jawab mereka semua,
tampak semuanya sudah siap dan tadarus pun dimulai, setelah hampir
satu jam akhirnya tadarus pun selesai.
Pagi harinya, seperti kebanyakan anak se-usianya, Imam berangkat
sekolah, saat ini Imam sudah kelas 2 sekolah dasar, di sekolah, Imam termasuk
siswa yang nakal, ia sering menjahili teman teman di kelasnya.
Siang harinya selepas pulang sekolah, Imam akan menghabiskan
waktunya untuk mengaji dan bermain, kadang ia bermain petak umpet, sepakbola
atau apapun itu asal ia bersama dengan teman – teman nya.
2. Hadiah Dari Pa Ustad
Siang hari waktu itu Imam sedang bermain sepakbola bersama teman –
temannya, karena begitu asik bermain, tak terasa waktu hampir memasuki waktu
adzan ashar, kemudian ummi menyusuli Imam yang sedang bermain tersebut “Immaamm,
pulang mam, Sebentar lagi ashar, kamu harus sholat ashar” teriak ummi dari
samping lapangan,
mendengar hal tersebut Imam pun langsung lari menuju
rumahnya,
“ummi kenapa baru panggil Imam jam segini, kan Imam bisa telat
sholatnya, ummi” ucap Imam
“ya habisnya kamu keasikan bermain sih sampai gak tau waktu” kata
ummi,
“yasudah sana cepat mandi dulu” ucap ummi kembali.
“baik ummi” Imam pun bersegera mandi.
Setelah selesai mandi Imam pun bersiap siap untuk berangkat ke
masjid untuk sholat ashar,
“abi,ummi Imam pamit dulu assalamualaikum” ucap Imam sambil
berlari,
Setelah sampai di surau tersebut, benar sekali tampaknya semua
teman – teman Imam sudah berkumpul dan sudah siap – siap, untungnya Imam belum
begitu terlambat karena saat Imam sampai masjid tersebut adzan baru
berkumandang, Imam beserta teman – temannya bersegera bersiap – siap sholat
berjamaah yang dipimpin guru ngajinya yaitu ustad Somad, selepas solat ashar,
ada pengajian tambahan, pengajian pun dimulai, waktu itu kita diwajibkan
menyetor hafalan surat – surat pendek,
“ayo siapa yang sudah hafal surat pendek nya sini setor ke bapa”
seru pak ustad Somad,
tampak riuh suasana disana karena anak – anak kecil yang
begitu bergembira karena setiap anak yang dapat menyelesaikan setoran nya, biasanya
akan diberi hadiah oleh pak ustad Somad,
Tampak Rihad, teman dekatnya Imam, maju paling dahulu
“saya dulu pak” ucap Rihad
“baik, sini Rihad menghadap ke bapak” ucap pak ustad
“mau menyetor surat apa?” tanya pak ustad,
“surat al-Kautsar pak” seru Rihad kembali,
“baik ayo segera mulai” kata pa ustad
“bismillahirahmannirohim, inna a’tainakal-kausar, fa salli
lirabbika wan-har, inna syani’aka huwal-abtar, shadaqallahul adzim” yeey sudah
pak ucap Rihad,
“Alhamdulillah, nih hadiah dari bapak (pak ustad memberi hadiah
permen kepada Rihad)”
“Alhamdulillah terimakasih pak” ucap Rihad sambil kembali ke
tempatnya,
“ayo siapa lagi yang mau dapat hadiah” tanya pa ustad,
“saya pak” “saya dulu pak” “saya pak” saut anak – anak saling
berebut ingin menyetorkan hafalan nya, tetapi Imam masih sibuk menghafal
ditempat nya, kemudian Rihad pun mendatangi nya,
“aduh kamu masih belum hafal ya mam” tanya Rihad,
“sedikit lagi nih, sudah makanya jangan mengganggu kamu hid” jawab
Imam
“siapa yang mau mengganggu, aku cuma bertanya” ucap Rihad sambil
membuka bungkus permen hadiah dari pak ustad
“wah kayanya enak tuh hid, sini buat aku aja permen nya” ucap Imam
sambil ingin merebut permen yang sedang dipegang rihad
“gaboleh dong, kalo kamu mau, kamu harus hafal dulu surat pendek”
ucap Rihad kembali
“yasudah tenang aja nanti aku pasti bisa kok” ucap Imam kembali,
setelah semuanya sudah menyetorkan surat pendek nya kemudian tiba
saatnya giliran Imam,
“pa saya juga mau setor nih” ucap Imam sambil maju kedepan,
“mau menyetorkan surat apa, Imam?” tanya pak ustad,
“surat yang tadi sama seperti Rihad pak” ucap Imam polos,
“oh surat al-Kautsar ya, yasudah ayo coba bacakan” seru pak ustad,
“baik pak” jawab Imam kembali
“bismillahirahmannirohim, inna a’tainakal-kausar, fa salli
lirabbika wan-har, inna syani’aka huwal-abtar, shadaqallahul adzim”
Imam selesai membacakan surat pendek tersebut, kemudian pak
ustad pun memberi hadiah kepada Imam
“alhamdulillah, ini permennya ambil” ucap pak ustad,
“baik pa terimakasih” ucap Imam sambil berjalan kembali ke
tempatnya.
“Baik pengajian hari ini kita cukupkan sekian Alhamdulillah
semuanya sudah menyetorkan hafalan surat pendek nya, sebelum pulang
marilah kita ucap Hamdalah terlebih dahulu , alhamdulillahhirobilalamin” semua
tampak begitu bergembira. lalu semuanya pulang kembali ke rumahnya masing –
masing, setiba sampai di rumahnya, Imam langsung bercerita ke ummi
“ ummi, ummi, Imam tadi diberi hadiah lo sama pak ustad” ucap Imam
“hadiah apa, ko bisa?” tanya ummi
“permen, ummi, tadi Imam bisa membacakan surat pendek” jawab Imam
“wah hebat anak ummi, emangnya tadi Imam membaca surat pendek
apa?” tanya ummi “Imam membaca surat al-Kautsar ummi” jawab Imam kembali
“coba ummi pingin dengar juga” kata ummi
“baik ummi, bismillahirahmannirohim, inna a’tainakal-kausar, fa
salli lirabbika wan-har, inna syani’aka huwal-abtar, shadaqallahul adzim,
bagaimana ummi bener kan Imam bisa” ucap Imam kembali,
“mmm pintar sekali anak ummi, yang rajin lagi ya mengajinya” ucap
ummi kembali
“baik, ummi” ucap Imam.
“oh iya, abi kemana ummi?, daritadi Imam gak ngeliat abi” tanya Imam,
“abi sedang gotong royong bersama warga membetulkan jalanan yang
bolong, kedua kakakmu juga ikut bersama abi” ucap ummi
“dari kapan memangnya ummi?” tanya Imam
“paling sebentar lagi juga datang” jawab ummi,
tak lama setelah itu abi beserta Amam dan Iman pun datang ke rumah
“assalamualaikum” terdengar suara mereka bertiga dari luar,
“waalaikumsalam” jawab Imam dan ummi di dalam,
“pasti pada capek ya, ummi ambilkan air untuk kalian” ucap ummi,
sambil berjalan hendak mengambil air minum di meja makan, “iya
ummi, capek sekali, tadi banyak jalan yang harus ditambal” jawab abi,
“nih minum nya” ucap ummi kembali, “wah terima kasih ummi” jawab
mereka bertiga, “yasudah kalo begitu ummi kembali ke dapur dulu ya” ucap ummi,
Aminah yang sedari tadi mengikuti ummi pun kembali mengikuti ummi
ke dapur,
“Eh sebentar lagi mau masuk waktu maghrib nih ayo siap – siap
berangkat ke masjid” ucap abi kepada ketiga anaknya tersebut,
“baik abi, ayo kita siap siap dulu, mam,dri” ucap Amam
3. Kebaikan Akan Dibalas Kebaikan
Kemudian Adzan Maghrib pun terdengar bersahut – sahutan satu sama
lain, Imam bersama kedua kakaknya dan abinya pergi ke masjid bersama – sama,
Setelah selesai sholat maghrib, mereka masih diam di masjid
sembari menunggu sholat isya kembali dilaksanakan,
Setelah sholat isya, mereka pulang dan ketika di jalan pulang
mereka bertiga bertemu dengan kakek – kakek yang sedang duduk di pinggiran
jalan, melihat seorang kakek – kakek duduk sendirian di pinggir jalan di malam
hari, spontan abi pun menghampiri dan menanyakan,
“assalamualaikum kek” ucap abi,
“waalaikum salam”, jawab kakek tersebut, “kakek kenapa duduk
disini, malam malam begini?” tanya abi,
“kakek lapar nak, belum makan sedari kemarin” jawab kakek
tersebut,
sontak abi dan anak – anak nya pun merasa kasihan, lalu abi pun
berinisiatif untuk mengambil makanan yang ada di rumah dan memberikannya kepada
kakek tersebut, “Imam,Iman,Amam sana pulang ke rumah dan bungkuskan nasi dan
lauknya untuk kakek ini” ucap abi menyuruh anak – anaknya,
“baik abi akan kami ambilkan” ucap Iman
Mereka bertiga pun berlari kerumah nya untuk mengambil nasi,
sesampainya di rumah, ummi yang sedang menyiapkan makanan pun kaget karena
ketiga anak nya datang ke rumah dengan berlari – larian,
“ assalamualaikum” ucap mereka bertiga dari luar sambil masuk
kedalam,
“ waalaikum salam, kenapa kalian berlari – lari” ucap ummi,
“itu umi ada kakek – kakek kelaparan, kata abi kita disuruh
mengambil makanan, untuknya” ucap Iman,
“yasudah sebentar ummi siapkan dulu ya makanannya” ucap ummi
sembari membungkuskan nasi dan lauk nya,
“ini makanannya, siapa yang mau mengantarkannya?” tanya
ummi,
“biar Iman saja ummi” ucap Iman,
“yasudah ini hati – hati ya” ucap ummi,
“baiklah Iman pergi dulu ya, assalamualaikum”
Iman pun mengantarkan makanan tersebut, sesampainya disana kakek
tersebut begitu terharu sampai meneteskan air mata,
“ini kek, makanannya pasti enak karena buatan ummi, hehe” ucap Iman,
“terima kasih banyak cu, kakek terharu sekali” ucap kakek
tersebut,
“yasudah kalau begitu makanannya dihabiskan ya kek, kami pulang
dulu” ucap abi,
“iya nak, terima kasih banyak, sepertinya kamu sudah mengajarkan
anak- anak mu dengan baik, semoga kelak anak – anak mu dapat menjadi orang –
orang yang berguna dan semoga semua kebaikan mu dibalas lebih oleh yang di
atas” ucap kakek tersebut, “aamiin kek, yasudah kita pergi dulu ya kek,
assalamualaikum”
Sesampainya di rumah, Iman dan abi sudah langsung disiapkan
makanan di meja, mereka semuapun makan bersama pada malam itu
“baik sebelum makan, kita berdoa dulu ya, berdoa dipersilahkan”
ucap abi memimpin do’a,
setelah selesai berdoa mereka pun mengambil lauk pauk untuk
dimakan bersama nasi yang masih hangat tersebut, akan tetapi Imam tidak kebagian
lauk tersebut,
“yah Imam gakebagian lauknya nih, pasti gara-gara tadi dikasihkan
ke kakek-kakek yang tadi” gerutu Imam,
“ehhh jangan begitu Imam, ini ambil saja lauk yang ummi, lagipula
jika kita melakukan suatu kebaikan, maka insyaaallah kita dapat balasan yang
lebih dari allah” ucap ummi,
Seketika Imam pun terdiam dan semua melanjutkan makan malam
bersama tersebut.
Pagi harinya saat adzan subuh berkumandang, Iman dan Amam pun
ingin membangunkan Imam tetapi kali ini Imam sudah terbangun, kemudian mereka
pun bersiap – siap untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama, hari itu
pun mereka menjalankan aktivitas seperti biasanya, tetapi kali ini berbeda
dengan hari – hari sebelumnya dimana saat hendak mengaji kali ini Imam begitu
bersemangat untuk mengaji, rupanya Imam masih penasaran dengan yang dikatakan
ummi nya tentang jika kita berbuat kebaikan maka kita dapat mendapat balasan
yang lebih baik lagi oleh allah, kemudian saat selesai mengaji Imam pun masih
terdiam di surau tersebut, sontak pak ustad pun bertanya kepada Imam “Imam,
kenapa belum pulang?” tanya pa ustad tersebut,
lalu Imam pun menjawab “iya pak ustad, Imam boleh bertanya ke pa
ustad?” ucap Imam,
“ ya boleh dong mam, mau tanya apa coba sini, barangkali bapa bisa
menjawab nya” ucap pa ustad tersebut
“apakah benar kalau kita berbuat baik maka kita akan mendapatkan
balasan yang lebih baik lagi?” tanya Imam
Satu lagi bedanya dengan anak-anak lain, Imam anak yang banyak
bertanya. Meskipun sering bandel, Imam memiliki pola pikir yang berbeda dengan
anak-anak seumuran. Membuat orang dewasa di sekitarnya terkadang mendesah, “Kok
bisa?
Imam suka mengamati dan meniru-niru orang dewasa. Mengingat detail
dengan baik. Dan pandai sekali menghubung-hubungkan sesuatu, entah itu berbagai
kejadian, atau hanya kalimat-kalimat orang yang didengarnya. Cara berpikir Imam
amat lateral. Ia berpikir dengan cara yang berbeda
“apakah benar kalau kita berbuat baik, maka allah akan membalas
kebaikan kita dengan yang lebih?” tanya Imam
“ya pasti akan dibalas oleh allah tetapi mungkin tidak akan
langsung dibalas langsung di dunia bisa jadi akan jadi balasan di akhirat
nanti” jawab pak ustad
“oh begitu ya pak, berarti kalau kita banyak berbuat kebaikan,
kita juga bisa masuk surga dong pak” ucap Imam
“ya insyaallah jika kita ikhlas berbuat kebaikan tersebut” ucap
pak ustad
“jadi, sekarang Imam paham kan?” tanya pak ustad
“paham pa, terima kasih” ucap Imam
“oh iya minggu ini ada praktek hafalan sholat, kamu harus siap-
siap ya” ucap pak ustad
“baik pak, insyaallah” ucap Imam
4. Praktek Sholat & Sepeda
Malam harinya keluarga abi Imran tampak berbahagia dan bersama –
sama sedang makan malam sehabis tadarus al-qur’an setelah sholat isya, Keluarga Abi Imran memang bahagia. Apalagi yang
kurang? Empat Anak yang saleh dan salehah. Kehidupan yang berkecukupan. Baik
bertetangga Dan bersahaja. Apa adanya. Mereka tinggal di komplek perumahan
sederhana. Dekat sekali dengan pantai. Lhok Nga memang tepat di tubir pantai.
Pantai yang indah. Rumah mereka paling berjarak empat Ratus meter dari pantai.
Komplek itu seperti perumahan di seluruh Kota Lhok Nga, religius dan
bersahabat.Ummi sehari-hari bekerja menjahit dan membordir pakaian pesanan
tetangga. Abi seperti yang dibilang sebelumnya bekerja di tanker perusahaan
minyak. Setiap tiga bulan baru kembali merapat di pelabuhan Arun. Kemudian
pulang ke Lhok Nga selama dua minggu, Sebelum balik lagi berlayar mengelilingi
lautan. Terus saja begitu sepanjang tahun, kecuali pas ramadhan dan lebaran.
Abi cuti panjang, satu bulan.
Di malam yang bahagia itu Imam menceritakan bahwa minggu ini ia
akan praktek sholat di sekolahnya, lalu abi dan ummi pun berjanji akan memberi
hadiah jika Imam berhasil menyelesaikan ujian praktek tersebut.
Malam yang bahagia itu sekejap terasa hambar lagi ketika abi berkata
akan kembali bekerja dan kembali meninggalkan rumah tersebut, kemudian abi
menyuruh Iman untuk menjaga ummi beserta adik – adik nya
“besok abi harus kembali bekerja, kalian jaga diri baik – baik ya,
harus nurut sama ummi” ucap abi
“abi memang nya gabisa besok lusa aja perginya?” tanya Imam polos
“gabisa dong nanti abi dipecat terus gabisa ngasih kamu hadiah
dong” ucap abi bercanda
“abi titip ummi dan adik – adikmu ya ndri” ucap abi ke Iman
“baik abi” ucap Iman
Iman tipikal anak sulung yang bisa diandalkan. Umurnya 14 tahun.
Meski masih kelas dua SMP/Mts, Iman bisa menggantikan peran Ummi dengan baik,
juga partner Ummi kalau Abi tidak ada di rumah seperti sekarang, ikut menjaga
adik-adiknya.
Siang itu sehabis pulang sekolah, Imam harus buru – buru datang ke
tempat pengajian nya karena iya terlambat setelah harus menyelesaikan piket
dulu di sekolahnya.
Imam mengaduk-aduk lemari pakaiannya (yang digabung dengan
lemari pakaian Iman dan Amam); tega sekali ia membuat lipatan pakaian
kakak-kakaknya porak-poranda.
“Ummi! Baju ngaji Imam kok nggak ada!” Imam berteriak sambil terus
mengaduk.
“Kan Ummi sudah taruh di atas meja!” Ummi balas berteriak. Ummi
lagi di ruang depan. Membordir pesanan ustadz Somad.
“Eh iya!” Imam nyengir. Buru-buru menuju meja belajarnya.
Meninggalkan isi lemari yang jungkir-balik. Menemukan baju TPA
berwarna biru. Imam dengan cepat mengenakan pakaian ngaji nya
“Yaa, Ummi napa pecinya yang ini.... Imam sering gatal-gatal kalo
pakai yang ini....” Imam mendekati Ummi. Menunjuk pecinya yang tengah
dipakainya
“Itu karena kamu malas cuci rambut, sayang!” Ummi terus
konsentrasi pada bordirannya.
“Imam juga sering kepanasan....” Imam mendaftar keluhan berikut
“Kan kamu bisa lepas nanti kalau terasa panas!” Ummi menjawab
seadanya. Imam tidak mendengarkan. Ia sudah beranjak menuju pintu keluar.
“Eh, nanti Imam langsung main ya, Mi!” Imam berteriak dari pintu
depan.
Ummi mengangguk. Mana Imam bisa lihat anggukan Ummi? Ia sudah
membuka pintu rumah. Ah, kalau Ummi diam tidak-berteriak itu berarti oke.
“Daa Ummi; //assalamualaikum//!” Imam berteriak langsung
lari.
Ummi tersenyum menjawab salam Imam pelan. Anak kecil laki lakinya
selalu begitu. Pamit selalu lari sambil berteriak mengucap salam.
Imam berlari-lari kecil. Peci birunya bergoyang. Bukan sekadar
karena gerak tubuhnya, tetapi juga karena desir angin laut yang menerpa.
Penghujung bulan akhir tahun ini, angin laut bertiup lebih kencang. Udara lebih
lembab dari biasanya.
Imam sudah terlambat. Tadi sepulang sekolah ia piket dulu. Di sekolahnya
memang begitu. Piket membersihkan ruangan kelas dilakukan setelah pulang. Imam
masih kelas dua, pulangnya pukul setengah sebelas, sekolah seperempat hari.
sekarang sudah jam sebelas lewat lima. Buru-buru Imam ke surau
yang terletak dua ratus meter dari rumahnya. Jadwal harian belajar mengaji TPA
dengan ustadz Somad.
Kata ustadz Somad, muslim yang baik selalu bisa menghargai waktu. Imam
tidak tahu apa artinya menghargai waktu; Yang ia tahu, saat ustadz Somad
menjelaskan, itu berarti kita harus datang tepat waktu, nggak boleh terlambat, Imam
berusaha datang tidak pernah telat. Seperti sekarang, ia lari lebih cepat.
Tasnya bergoyang-goyang mengikuti irama tubuh. Dahi Imam ber-keringatan.
Suara anak-anak yang membaca Iqra terdengar dari kejauhan. Imam
nyengir. Ya.... ia telat lagi.
Tiba di halaman surau setengah menit kemudian. Buru-buru masuk ke
surau. Ustadz Somad menatapnya.
“Imam tadi piket....!” Imam menjelaskan tanpa diminta. Menyeka
dahinya. Ustadz hanya tersenyum. Dia tahu setiap hari Senin Imam pasti datang
terlambat. Semua anak yang lain juga telat kalau lagi jadwal piket di sekolah.
Bedanya dengan Imam; Imam selalu berkepentingan menjelaskan. Meskipun
penjelasannya itu-itu juga.
“Tapi entar kalau Abi sudah pulang; Imam nggak bakal telat lagi....”Imam
berkata sambil mengambil rihal. Duduk di sebelah ustadz.Ustadz Rahman yang
sejenak tadi sibuk mengawasi dua puluh anak sepantaran Imam yang sedang membaca
Iqra masing-masing;
Menoleh ke arah Imam, bertanya lewat tatapan. Tidak telat lagi?
“Karena Abi janji beliin Imam sepeda! Hadiah kalau Imam berhasil
mengahafalkan hafalan shalat Imam! Jadi wuss... Imam pasti nggak telat lagi!” Imam
menyeringai bangga. sembuka iqra-nya.
“Memangnya Imam sudah hafal bacaan shalatnya?” Ustadz bertanya
lembut, tersenyum.
“B-e-l-u-m....” Imam menggeleng lucunya.
ustadz Rahman tersenyum lagi.
Imam mulai membaca Iqranya. Nanti seperti ngaji dengan Ummi, ia
juga akan nyetor dengan ustadz Somad.Tetapi ramai-ramai. Ustadz ngajar-nya
serempak di papan tulis
Ustad, kenapa ya Imam sering kebolak-balik?” Imam nyeletuk.
mengangkat kepalanya dari buku iqra di atas rihal. Ingat sesuatu.
Ustadz Somad menatapnya? Kebolak-balik? Oo, bacaan shalat.
“Biar nggak kebolak-balik kamu mesti menghafalnya
berkali-kali....
baca berkali-kali.... Entar nggak lagi! Entar pasti terbiasa.”
Ustadz menjelaskan.“
Imam sudah baca berkali-kali, kok.... Tetap saja begitu!”
Ustadz tersenyum. Semua anak memang punya masalah seperti ini
kalau menghafal bacaan shalat. Terbalik-balik.
Bedanya dengan Imam ya pertanyaan selanjutnya ini, “Ustadz,
emangnya nggak boleh baca kebolak-balik?”
“Eh.... Nggak boleh, dong Imam!”
“Kenapa nggak boleh? Kan semuanya tetap dibaca.... Lengkap!”
Imam memasang wajah seolah-olah ikut berpikir serius. Pertanyaan
itu juga serius sekali sebenarnya.
Ustadz Somad menyeringai. Kan susah kalau dia mesti jelasin shalat
Itu “ibadah besar”. Jadi mesti sesuai dengan tuntunan Rasul. Tidak Boleh ada
yang beda. Beda sedikit bisa jadi bid’ah. Lah bid’ah itu Apaan? Pasti Imam
bertanya balik. Dan urusan semakin ribet. bukan. Bukan ustadz Somadn tidak mau
menjelaskan panjang lebar.
tetapi mengajari anak kecil seperti Imam, harus ada tekniknya.
Atau kalau tidak, akan terjadi mall-praktek mendidik anak-anak.
“Eh.... Kalau Imam pakai kaos-kaki kebolak-balik warnanya boleh
nggak?”
“Boleh.... Boleh-boleh saja.... Imam pernah kok!” Imam menjawab
serius (ia memang pernah, maksudnya nggak sengaja salah pasang terus
diketawain).“Eh.... Kalau Imam pakai sepatu di kepala... Terus peci di kaki
bisa gak kebolak-balik begitu?” Ustadz Somad mencari analog lain. Menyesal
dengan contoh sebelumnya. Jelas-jelas dia sedang menghadapi Imam.
Imam sekarang terdiam. Berpikir. Kemudian nyengir. Menggeleng
pelan. Ustadz Somad tersenyum. Imam tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Ia
selalu bisa mengambil kesimpulan sendiri.
Eh, tetapi ustadz kan belum jelasin bagaimana caranya agar nggak
kebolak-balik? Imam hendak bertanya lagi. Terlambat, ustadz Somad sudah
mengetuk papan tulisnya. Tanda mereka akan beramai-ramai mendengarkan ustad
bercerita. Pertanyaan itu tersimpan dalam hati.
5. Khusyu
“Pernah ada sahabat Rasul, saking khusyuknya shalat, kalajengking
besar menggigit punggungnya dia tidak merasakan sama sekali.... Ya kalajengking
besar....” Ustadz Somad menggambar kalajengking itu dengan gerakan tangannya.
Bersuara seperti capit kalajengking yang menganga.
Anak-anak bergidik. Ustadz Rahman pintar bercerita. Setiap habis
membaca Iqra bersama-sama, biasanya ustadz Somadn akan mengajari mereka banyak
hal, selain mengaji. Doa-doa harian; Hafalan-hafalan surat; bernyanyi. Favorit Imam
dan teman-temannya tentu saja “cerita”. Sekarang ustadz bercerita soal
bagaimana khusuknya shalat Rasul dan sahabat-sahabatnya.
“Kenapa dia nggak kerasa sakit; kan badannya jadi bengkak?” Kalau
anak lain bergidik, Imam justeru mengacungkan tangan bertanya. memandang ingin
tahu.
Ustadz Somad menelan ludah.
“Eh, karena orang yang khusuk pikirannya selalu fokus. Pikirannya
satu! Misalnya Imam lagi asyik main bola di pantai. Pikirannya cuma satu kan,
nendang-nendang bola. Meski kaki misalnya keseleo sakit, Imam tetap main. Meski
hujan-hujanan, Imam juga tetap main. bahkan dipanggil Ummi, Imam juga nggak
mendengarkan, kan....”
anak-anak lain tertawa. Imam nyengir.
“Nah, jadi kalian shalat harus khusyuk. Harus satu pikirannya....
andaikata ada suara ribut diseki-tar, tetap khusuk. Ada suara Gedebak-gedebuk,
tetap khusuk. Jangan bergerak. Siapa di sini yang kalau shalat di masjid sering
gangguin temannya?”
Semua anak-anak menunjuk Imam yang jahil.Ustadz Somad tersenyum. Imam
hanya menyeringai galak.
mereka mendengarkan lanjutan cerita tersebut lima belas menit
lagi.
Kemudian ustadz Somad menutup pengajian TPA mereka dengan membaca
doa bersama. Keras-keras.
“Anak-anak sebentar!” Ustadz meminta perhatian teman-teman
Imam yang sibuk membereskan rihal dan tas masing-masing. Bersiap
pulang. Mereka menoleh. “Besok kita libur!” Ustadz Somad tersenyum mengatakan
itu. Mukanya riang; tidak seperti biasanya kalau mengumumkan soal libur. Ustadz
Somad kan tidak suka kata-kata libur.
“Hore!!” teman-teman Imam lebih senang lagi.
Melanjutkan berbenah siap pulang. Kemudian Imam bertanya
“Memangnya ustadz mau kemana?” Imam mendekat bertanya, ia melepas
pecinya tuh kan bener, terasa panas!).
“Ke Meulaboh!”
“Ooo iya.... Ustadz mau nikah ya?” Imam teringat ucapan Ummi
beberapa hari lalu. Bordiran pakaian Ummi tadi pagi juga buat
Bawaan ustadz melamar.Ustadz Somad tersipu mukanya.
“Asyik! Pasti ada kenduri besar-besaran kan?” Imam berseru riang.
Yang beginian memang hobinya. “Pasti ada arak-arakan... uang receh yang
dilempar... banyak manisan!” Imam menghitung semua hal menyenangkan tersebut
dengan jemarinya.
6. Pergi ke Pasar
Hari-hari berjalan begitu cepat, sekarang sudah hari sabtu, di
hari ini biasanya ummi pergi belanja ke pasar.
Ummi keluar dari dalam rumah. Mengenakan kerudung warna ungu.
bersiap hendak pergi ke pasar. Pagi sabtu, jadwal belanja mingguan ummi seperti
biasa.
“Ih, Ummi kenapa pakai warna itu?”kata Iman yang apa mau dikata
meskipun bacaannya kelas berat tetaplah remaja serba tanggung, segera
berkomentar saat melihat warna kerudung yang dipakai Ummi. keberatan.
“Nggak pa-pa kan? Kerudung Ummi yang lain lagi kotor! Yang tersisa
tinggal ini....” Ummi memegang ujung kerudung ungunya. mematut penampilan
sambil menatap tak mengerti Iman.
“Ummi bisa pakai Warna apa saja. Asal jangan warna yang ini.
Sebentar ya, Iman ambilin....” Iman buru-buru berdiri. Meletakkan bukunya di
atas balai bambu. Lari masuk ke dalam rumah tanpa ba-bi-bu.
“Emangnya kenapa, kalau Ummi pakai kerudung warna ungu?” ummi
bertanya penasaran pada Iman sambil menerima kerudung dari tangan sulungnya.
“Yeee, Ummi masak nggak tahu. Ungu itu warna janda! Pertanda
buruk!” Iman menjelaskan serius sekali.
Warna janda? Bahkan Imam yang sedang menghafal ikut tertawa.
apalagi Amam, langsung tertawa lebar. Ia juga baru tahu. Ungu warna apa? Warna
Janda?
“Ah, terus kenapa?”ummi nyengir. Berpikiran sama dengan Amam,
memangnya kenapa kalau warna janda? Ummi menatap gurat wajah Iman yang amat
serius Ummi mengalah. Ya sudahlah! Iman belakangan memang suka mengomentari
penampilan orang lain. Ummi saja sudah tiga kali terpaksa berganti kostum
selama sebulan ini pas hendak ke pasar. namanya juga ABG.
“Pemerhati pesyen!” Itu kata Amam sok-gaul sok-paham pakai bahasa
Inggris beberapa minggu lalu, sirik ngomel kepada kak Iman yang hobi
berkomentar tentang pakaian teman-teman Aminah yang bertamu ke rumah.
Ummi keluar lagi dari bingkai pintu, sudah berganti kerudung
Iman tersenyum senang. Mengacungkan jempol tangan.
“Imam, kamu kok belum siap siap?” Ummi menegur Imam, melangkah
mendekat.
“Wa-bi-ja-li-ka.... U., u... Um-mi” Imam menoleh bingung ke arah
ummi. Ia menghentikan gerakan ayunan.
“Kamu kan ikut Ummi ke pasar sekarang!”
“Eh.... Nggak ah, Imam menghafal saja hari ini!” Imam menggeleng
buru-buru.
“Kamu harus ikut, sayang.... Ummi mau beli itu— i-t-u tuh!” Ummi
membisik pelan “sepeda, sepeda”
Imam menatap tak mengerti dua kejap. Tetapi segera berteriak
beberapa detik berikutnya. Meloncat dari ayunan....
“UMMI MAU BELI SEPEDA?” Imam berseru senang.
“Sepeda buat Imam?” Imam sudah mencengkeram baju Ummi.
Wajahnya yang lucu sungguh menggemaskan. Rambut ikalnya yang
pirang bergerak-gerak. Mata hijaunya menyala. Ummi mengangguk.
“Hore! ....Sebentar!” Imam sudah melesat lari ke dalam rumah.
meletakkan buku hafalan bacaan shalatnya sembarangan.
“Imam boleh pilih hadiah sepedanya sendiri kan?
ummi mengangguk. Sekarang malah Imam yang menyeret tangan umminya
keluar pekarangan rumah. Semangat!
Mereka akan ke pasar Lhok Nga. Membeli sepeda hadiah hafalan
bacaan shalat Imam (di samping belanjaan rutin mingguan Ummi lainnya).
Sepeda yang dijanjikan Ummi sebulan lalu. Sepeda yang membuatnya semangat
belajar menghafal bacaan shalat mingguminggu terakhir.
Pasar Lhok Nga ramai sekali. Sepanjang jalan tadi, Imam kencang
memegang baju Ummi. Ia jelas tidak mau kehilangan jejak kaki ummi.
Itulah yang tadi menjelaskan kenapa Imam pertama kali buruburu
menyeringai malas saat diajak Ummi ke pasar.
Ia pernah tertinggal dari Ummi. Dan sepanjang pagi itu Imam
berteriak-teriak mencari Ummi di seluruh pasar. Panik. Takut. Imam benar-benar
takut dengan kata-kata sendirian. Beruntung ada yang mengenali Imam. Berbaik
hati mengantarnya pulang. Ummi juga waktu itu panik sekali. Sempat-sempatnya
lapor ke pos polisi pasar.
Dicari kemana-mana, eh tahunya yang di cari sudah makan siang di
rumah. Amam menggodanya sepanjang minggu. Buronan polisi!
7. Sepeda Untuk Imam
Ummi dan Imam pun sampai di tokonya koh Ahok, toko ini menjual
berbagai peralatan dan juga sepeda, karena sudah jadi langganan ummi, koh Ahok
menawarkan sepeda dengan harga separuh harga
“Ah, nggak usah. Biar saya bayar penuh Koh Ahok!” Ummi menggeleng
pelan. Tersenyum menolak.
“Tidaklah.... Kalau untuk hadiah hafalan shalat ini, Ummi Siti
bayar separuh saja, haiya!
Imam nyengir, menarik-narik baju Ummi, menatap tak mengerti
‘Ummi napa sih, mau dikasih setengah harga gak mau, kan sayang.’
tetapi Ummi tidak memperhatikannya.
“Buat kamu kan.... Ah iya nama kamu Imam kan? Anak yang
manis,
“ Koh Ahok mengusap-usap kepala Imam. Imam tersenyum lucu.
“Semoga kalo begitu malah gratis” ucap Imam hehehe
mereka memang selalu ke sini kalau membeli sepeda/ peralatan.
Sedikit di antara toko sepeda yang ada di Lhok Nga. Tadi Ummi benar-benar
membiarkan Imam memilih sendiri sepedanya. Sekarang tinggal membayar. Dan
sepertinya Koh Acan yang dari ujung rambut hingga ujung kaki China tulen,
berbaik hati untuk kesekian kalinya.
“Janganlah Koh. Saya jadi tidak enak hati.... Dulu waktu Iman
beli
Koh Ahok juga hanya mau dibayar separuh,Kali ini biarlah Imam
bayar penuh....” Ummi mengeluarkan dompet dari tas. Mengambil uang seharga
sepeda tersebut.
“Nggak... Haiya, saya nggak mungkinlah pasang harga mahal kalau
buat hadiah hafalan shalat! Nggak mungkinlah....
“Kata Abi Imran dulu, shalat itu kan untuk amm-mar mak-rup na-khi
mhung-khar-” Koh Ahok kesulitan mengeja ujung kalimatnya. “Saya senang sekali
anak-anak kecil belajar shalat.... Itu berarti Lhok Nga akan jadi lebih baik
kan.... Apalagi anak-anak Abi Usman dan Ummi Siti sudah seperti anak saya
sendiri ini....” Koh Ahok menggeleng tegas menatap uang itu.
Ummi memaksa menyerahkan uang penuh. Koh Ahok sebaliknya memaksa
mengembalikan separuh-nya. Dan Imam dengan sukarela, dengan tampang
menggemaskan ringan-tangan menerima separuh uang itu dari tangan Koh Ahok.
Ummi menyeringai. Mendelik ke arah Imam. Ummi Ingin menyuruh Imam
mengembalikannya. Tetapi Imam, lihatlah, justru menggenggam uang itu erat-erat.
Ya sudahlah! Seharusnya ia tadi pergi ke toko lain saja kalau tahu begini....
Masalahnya mau ke toko mana lagi? Suaminya kan selalu menyuruh dia belanja di
sini. Koh Ahok sudah seperti kakak-adik dengan suaminya.
“Daaa Koh Acan! Khamsia....” Imam menyeringai. Koh Acan balas melambai
tertawa lebar. Khamsia!
Kemudian mereka melanjutkan belanja lainnya.
8. Waktu Yang di Tunggu & Waktu Yang Tidak di Inginkan
Waktu yang ditunggu-tunggu Imam akhirnya tiba juga, di hari itu ia
akan melakukan ujian praktek sholatnya dan iapun akan mendapat hadiah jika
berhasil, akan tetapi hari yang ditunggu-tunggu itu tampaknya akan menjadi hari
yang tak pernah diinginkan oleh Imam
Pagi itu hari Minggu tanggal 26 Desember 2004 saat dimana semua
orang di Aceh dan sekitarnya merasakan begitu dahsyatnya kuasa Tuhan,
terjadinya tsunami yang memperingatkan semua umat manusia agar senantiasa
menjaga alam dan melakukan hal-hal yang positif dan menjauhi segala hal-hal
yang negatif.
Pagi itu Imam sedang bersiap-siap untuk melaksanakan kegiatan ujian
praktek sholat, terlihat Imam seperti masih sedang menghafal hafalan sholatnya,
tapi disamping itu terlihat raut wajah Imam yang begitu ceria begitu riang
apalagi jika Imam berhasil menyelesaikan praktek sholat tersebut maka Imam akan
diberikan hadiah dari abi dan ummi nya, namun Tiba-tiba terdengar suara
gemuruh, tanah seakan berguncang membuat Imam,dan yang lainnya panik di rumah
tersebut.
“Ummi, umii, Imam takut sekali ummi” teriak Imam
“tenang Imam, ummi disini bersama Imam” ucap ummi
“bagaimana ini ummi” tanya Imam
“sini peluk ummi, sambil pelan pelan kita keluar rumah ya” ucap
ummi
“Takut ummi, Imam takut” kata Imam
“ Imam harus percaya sama ummi, ayo segera keluar rumah, ayo
keluar” ucap ummi
“Baik ummi” kata Imam
Imam pun berhasil keluar dari rumah dan ternyata semua kakak dan
adiknya semua sudah ada di luar rumah mereka semua begitu panik dan takut, tapi
untungnya gempa tersebut tak berlangsung lama, dan ummi pun coba menenangkan
mereka dengan memeluk mereka semua
Dengan wajah yang ketakutan Imam bertanya kepada ummi nya
“ummi, apakah praktek sholat nya tetap jadi?” tanya Imam
“Sepertinya jadi apalagi gempa nya sudah tidak ada” ucap ummi
“Tapi Imam masih takut ummi” ucap Imam
“kamu gausah takut mam, insya Allah, Allah akan melindungi kita semua”
ucap kakaknya Iman
“Bener tuh kata kakak kamu, yasudah ayo pergi” ucap ummi
“baik ummi” ucap Imam
“kalian tetap di rumah saja ya dan ummi minta tolong kepada Iman
untuk menjaga adik adiknya di rumah” ucap ummi
“Baik ummi” ucap Iman
Imam dan ummi pun pergi ketempat Imam akan ujian praktik, ya
tempatnya disekolah Imam, disekitar halaman sekolahnya, semua tampak semangat
dan ada juga yang terlihat gugup, melihat temannya yang gugup Imam pun jadi
gugup tetapi untungnya ummi dapat menenangkan Imam, teman-teman Imam banyak
yang berhasil, membuat Imam pun optimis akan menyelesaikan ujian praktik
tersebut dengan baik.
Tibalah saat giliran Imam akan praktik, Imam dengan sedikit gugup
memulai dengan takbiratul ihram, semua dilalui Imam dengan baik, akan tetapi
saat Imam sedang sujud terdengar suara gemuruh, tanah kembali berguncang tetapi
sekarang terasa lebih parah daripada yang dirasakan keluarga Imam pada
sebelumnya, terlihat semua orang panik berhamburan meninggalkan tempat itu,
akan tetapi Imam dengan khusyuk nya terus melanjutkan praktik sholat tersebut, Imam
teringat ucapan pak ustad agar selalu fokus untuk menyelesaikan sholat dan
tidak boleh terganggu oleh suara suara yang disekitar.
Tiba-tiba air pantai naik ke daratan, menghancurkan semua yang ada
di daerah tersebut menenggelamkan semua yang ada di sana, menghanyutkan semua
yang ada, juga menghanyutkan dan menenggelamkan Imam yang sedang ujian praktik
tersebut,
Saat itu Imam bermimpi bertemu ummi, Iman, Amam dan Aminah akan
tetapi ia tak bisa menyentuhnya dan mereka pun takbisa melihat Imam, mereka
semua seakan pergi ketempat yang lebih indah ya mungkin mereka semua sudah
disurga sekarang,
Imam tersadar dari pingsannya, ia melihat sekitarnya terlihat
semua sudah hancur, ia melihat teman-temannya sudah tidak ada yang sadarkan
diri, 2 hari Imam terjebak dalam puing bangunan tangan kanan nya terjepit dan
tak bisa digerakkan, Imam meminta pertolongan, Imam berteriak akan tetapi suara
Imam mungkin sudah habis, bahkan tenaganya pun mungkin sudah habis, tak banyak
yang ia bisa lakukan akhirnya Imam pun kembali pingsan
Bangun dari pingsannya, ternyata Imam sudah berada di ruangan
seperti di rumah sakit, rupanya Imam sudah mendapatkan pertolongan.
Dilain tempat Abi yang sedang bekerja terlihat panik karena tempat
kelahirannya tempat semua keluarganya habis disapu air, abi panik dan ingin
buru buru menyusul kesana, akan tetapi abi harus naik kendaraan untuk kesana,
iapun bersegera pergi ke stasiun atau apalah itu yang penting tempat
transportasi menuju ke desanya, tetapi semua kendaraan sudah penuh, untungnya
ada seorang relawan kemanusiaan bertanya dan mengajak abi untuk pergi bersama
dengannya
“Maaf bapak, apakah bapak gak kebagian kendaraan?” tanya seorang
relawan
“iya saya tidak kebagian kendaraan, padahal saya harus melihat
keadaan keluarga saya disana” ucap Abi
“yasudah kalau mau bapak ikut dengan truk kita, akan tetapi akan
bersedak sedakan dengan para relawan yang lain, bagaimana apakah bapak mau?”
tanya relawan tersebut
“Mau pak, saya ikut” Abi menjawab dengan spontan
Sesampainya disana Abi langsung menuju ke tempat dimana rumahnya
dibangun, akan tetapi semua sudah rata, bertemulah abi dengan koh Ahok, orang
yang ia anggap sebagai kakak sendiri, koh Ahok bercerita bahwa semua
keluarganya sudah tiada yang tersisa hanya Imam saja, mendengar kabar itu,
lutut abi langsung jatuh ke tanah, rasanya lemas sekali, air mata pun sudah
jatuh dari matanya, abi sudah tidak kuat menahan tangisnya, kemudian koh Ahok
mencoba menenangkan Abi dan berkata “sudahlah, kamu harus bisa menerima ini
semua, kamu harus bisa bersyukur Tuhan masih membiarkan Imam hidup, berbeda
dengan saya yang sudah ditinggal pergi semua keluarga saya” ucap koh Ahok
“jadi, kamu sekarang tinggal sebatang kara, maafkan saya, saya
harus segera menemui Imam” ucap Abi
“yasudah ayo saya antar ke tempat Imam dirawat” ucap koh Ahok
Mereka berdua pun lari dengan kencang untuk segera menemui Imam,
Ditempat perawatan ternyata Imam sudah sadar dan begitu
terkejutnya Imam karena tangan kanannya tinggal sepotong, ternyata tangan kanan
Imam harus diamputasi karena jika tidak diamputasi takutnya keadaan tangannya
lebih parah.
Sesampainya di ruang perawatan abi pun langsung bertemu Imam dan
memeluk Imam dengan kencang, tangisan tak terbendung dari bapak dan anak
tersebut, Abi pun bersyukur masih bisa bertemu dan memiliki Imam.
Saat sedang berpelukan kemudian dengan nada suara yang lemas Imam
bertanya
“abi,Imam bermimpi Ummi, ka Iman, ka Amam dan Aminah pergi
ninggalin Imam, katanya mereka pergi ke surga, kok Imam gak diajak?” tanya Imam
polos
“kamu gak diajak karena Allah masih pingin kamu hidup di dunia”
ucap abi
“berarti Ummi, ka Iman , ka Amam dan Aminah sudah meninggal? Tanya
Imam penasaran
“iya….” Jawab abi sambil meneteskan air matanya kembali.
Tentang Penulis
Lahir pada 02 November 2003 di Cimahi diberi nama Rizki Ramadhani. Saat menulis novel ini masih seorang anak berusia 18 tahun
dan sudah menjadi siswa kelas 12 di SMA Negeri 2 Cimahi mempunyai hobi bermain
futsal.seorang anak pertama dari tiga bersaudara yang memiliki cita-cita
menjadi direktur utama dan membahagiakan orang tua.
Keren kang
BalasHapusCerita yang diambil dan diangkat menarik. Semoga bisa menjadi novel yang baik.
BalasHapusNovel akang ini sudah baik dan benar 👍🏻
BalasHapusSangat menarik, Panjang banget pasti cape ngetiknya ya?
BalasHapusjudulnya singkat tapi menarik, dan cerita yang disuguhkan juga bagus.
BalasHapusTeks kerangka novelnya bagus, struktur dan kaidah kebahasaannya sudah sesuai, bahasa yang digunakan mudah untuk dimengerti, topik yang dibahas pun sudah cukup menarik.
BalasHapusNovelnya mudah di mengerti, dari segi bahasa dan kosakatanya
BalasHapus