Selasa, 19 Oktober 2021

TEKS CERITA SEJARAH

 NAMA            : RIZKI RAMADHANI  

KELAS            : XII MIPA 10

NO ABSEN     : 29


Masa keemasannya yang berlangsung cukup panjang, berpuncak pada juara tunggal putri bulutangkis Olimpiade Barcelona, Spanyol (1992). Dia peraih emas pertama Indonesia di Olimpiade. Ketika itu Alan, pacarnya, juga juara di tunggal putra sehingga media asing menjuluki mereka sebagai “Pengantin Olimpiade”. Predikat pengantin ini rupanya terus melekat, terbukti saat mereka dipercaya menjadi pembawa obor Olimpiade Athena 2004.

Prestasi yang mengharumkan nama bangsa juga diukir oleh Susi dengan meraih sederetan kejuaraan. Dia menjuarai All England empat kali (1990, 1991, 1993, 1994). Sang juara yang punya semangat pantang menyerah ini selalu menjadi ujung tombak tim Piala Sudirman dan Piala Uber. Juga juara dunia (1993) dan puluhan gelar seri grand prix.

Kiprah Susi Susanti di dunia olahraga bulutangkis Indonesia memang luar biasa. Dalam setiap pertandingan, ia menunjukkan sikap tenang bahkan terlihat tanpa emosi di saat-saat angka penentuan. Semangatnya yang pantang menyerah meski angkanya tertinggal jauh dari lawan membuat banyak pendukungnya menaruh percaya bahwa Susi pasti menang.

Berkat kegigihan dan ketekunannya, perempuan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Februari 1971 ini turut menyumbang kesuksessan tahun 1989 ketika Piala Sudirman direbut tim Indonesia untuk pertama kalinya dan sampai sekarang belum lagi berulang. Dia pun turut menorehkan sukses saat merebut Piala Uber tahun 1994 dan 1996 setelah piala itu absen lama dari Indonesia.


JUARA YANG DILUPAKAN

Semenjak SD, aku sudah suka bermain bulutangkis.Tepatnya pada saat ada kegiatan lomba 17 Agustusan di kampungku.Awalnya aku diajak oleh ibuku untuk mengikuti lomba menari.”Susi,Susiii !!! ”teriak ibuku mencariku yang kabur dari tempat lomba menari menuju lomba bulutangkis.Pada saat itu kakakku sedang bermain di final melawan jawara di kampungku.Akhirnya kakakku kalah lalu sang jawara bernama Udin mengejek kepada kakakku.

”Katanya bapaknya atlit,tapi anaknya mainnya jelek,bias juara apa ? “ ucap si Udin.

”Anaknya yang atlit itu ada dua,tau gak?ayo lawanku,taruhannya raket itu(sambil menunjuk ke raket hasil juara si Udin),kamu berani gak? “ ucapku ke si Udin.

“Kalau kalah kamu mau ngasih apa “ ucap Udin.

“Bakpau satu gerobak(sambil menunjuk ke tukang bakpau di pinggir lapang).” ucapku.

(Penonton bersorak)

“Susi,Susi,Susi !!! ” penonton bersorak.

Permainan berjalan dengan sengit,akhirnya aku memenangkan pertandingannya.Penonton pun bersorak-sorak karena tidak ada yang mengira si Udin bakal kalah,lalu si Udin pun malu.

Beberapa hari kemudian disuatu malam,bapakku dan ibuku sedang merundingkan tentang karir bulutangkis anaknya.

“Pak gimana tuh si Susi malah jadi suka ke badminton”ucap ibuku.

“Tapi tadi si Susi menang loh mah,lawan jawara Tasik lagi “ ucap bapakku .

“Jadi bapak tuh mau si Susi atau si Lury sih ?”

(Tiba-tiba telepon rumah berdering)

Ring...ring…ring

Bapakku mengangkatnya lalu terkaget,karena telepon itu berasal dari tim Jayaraya di Jakarta.

Mereka menawarkan kepada Susi untuk bergabung dengan timnya.Akhirnya aku dan orangtuaku setuju untuk menerima tawaran itu.Kebetulan orang tuaku juga sangat mendukung dan memberi kebebasan untuk menjadi atlit bulutangkis. Setelah menang kejuaraan junior, orangtuaku mengajak pindah dari Tasikmalaya ke Jakarta. Meski saat itu masih duduk di bangku 2 SMP, aku sudah mulai berpikir untuk serius di dunia bulutangkis.

 

Beberapa bulan kemudian

 

Kegiatanku berbeda dengan remaja lain karena aku tinggal di asrama dan bersekolah di sekolah khusus untuk atlit. Aku menjadi kuper karena hanya berteman dengan sesama atlit. Bahkan pacaran pun dengan atlit.

Sebagai atlit, jadwal latihannya sangat padat dan juga pola latihan yang keras dialami olehku. Enam hari dalam seminggu, Senin – Sabtu dari jam 7 sampai jam 11 pagi, lalu disambung lagi jam 3 sore sampai jam 7 malam. Makan, jam tidur dan pakaianku juga ada aturannya tersendiri. Aku tidak diperbolehkan memakai sepatu dengan hak tinggi agar kakiku terhindar dari kemungkinan keseleo. Jalan-jalan ke mal pun hanya bisa dilakukannya pada hari Minggu. Itu pun jarang karena sudah terlalu capek latihan.

Memang tidak ada pilihan lain, aku harus disiplin dan berkonsentrasi untuk menjadi juara. Akhirnya menyadari bahwa untuk meraih prestasi memang perlu perjuangan dan pengorbanan. “Kalau mau santai dan senang-senang terus, mana mungkin cita-cita saya untuk jadi juara bulutangkis tercapai? Sekarang rasanya puas banget melihat pengorbanan saya ada hasilnya. Ternyata benar juga kata pepatah: Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” kataku .

 

Bertahun-tahun kemudian,aku pun terus tumbuh dewasa.

 

Setelah memenangkan World Championship Junior 1985, aku pun melangkah ke pelatihan nasional PBSI dan semakin matang. Aku dilatih oleh Tong Sin Fu (Chew Kinwah) dan Liang Chu Sia (Jenny Chang). Di sana juga aku bertemu teman-teman atlet seperti Alan Budikusuma (Dion Wiyoko), Ardy B. Wiranata (Nathaniel Sulistyo), Hermawan Susanto (Rafael Tan), Sarwendah Kusumawardhani (Kelly Tandiono).

 

Susi pun meraih beragam prestasi, mulai dari, medali emas di Sudirman Cup Jakarta tahun 1989, medali emas di World Cup  Guangzhou tahun 1989.

Sebelum aku mengikuti Olimpiade di Barcelona,wartawan dari berbagai media menjudge aku.Karena performaku di turnamen-turnamen sebelumnya menurun drastis.Aku hampir menyerah karena ucapan-ucapan di berbagai media sangat menyakitkan bagiku.Untungnya perwakilan PBSI berbicara kepada media.

“Seharusnya kalian(para media)  jangan menyinggung urusan pribadi para pemain,karena para pemain sudah berkerja secara maksimal.Pemain-pemain kita hanya butuh dukungan semangat dari kalian.Kita kalah karena lawan kita bermain dengan baik.”ucap ketua PBSI.

Olimpiade Barcelona pun dimulai,step by step,pertandingan demi pertandingan aku lewati.Akhirnya aku masuk sampai tahap final.Di final ini aku akan berhadapan dengan perwakilan dari Korea,tetapi aku malah makin takut.Aku masih terbayang-bayang dengan hujatan-hujatan yang diberikan kepadaku di media.

Semalam sebelum pertandingan aku menelepon ke bapakku.

“Halo Susiii”ucap bapakku.

Tetapi aku hanya diam merenung saja

“Ada masalah apa Sus?”

“Aku takut”ucapku.

“Halo takut,apa kabar?sudah lama kita tidak bertemu.Aku ingat kamu berkunjung di masaku dulu.Takut sekarang kamu sedang menemani Susi ya.Tolong jagain dia ya takut,dia belum kenal kamu takut,selama ini dia belum menerimamu,karena belum tahu kamu bisa dijadikan sahabat,bahwa kamu dapat menjadi tuan rumah yang baik,memancarkan persamaan di dalam perbedaan,menyampingkan perbedaan demi  kebersamaan,melupakan kerasnya hidup walau cuma sesaat dan yang paling penting bisa melepes keberanian kita yang terpendam,siap atau tidak siap.Sus keberanian bukan berarti tidak punya rasa takut,tapi ketika dihadapan si takut,kamu tahu bersama siapa menghadapinya kamu tidak sendirian,kita yang menemani ”bapakku menghiburku.

Akupun hanya tertunduk lesu,merenungkan ucapan bapak.

Telepon pun putus sambungan

Hari final pun tiba,seluruh elemen masyarakat menyempatkan untuk menonton partai final Olimpiade Barcelona ini.

Di babak 1 aku bermain buruk sehingga aku kehilangan poin di game pertama,penonton pun kecewa.

Di jeda babak ke 2 aku membayangkan perkataan bapak semalam,aku terus memikirkannya dan itu membuat suntikan semangat alami.Aku sangat bersemangat untuk melanjutkan pertandingan.Babak kedua dimulai aku mendominasi permainan,poin demi pon aku dapatkan.Lawanku tidak berkutik di babak kedua 2 ini akhirnya aku memaksa lawan untuk bermain Rubber Game(Babak 3).

(Penonton mulai semangat lagi,mereka membantuku dengan doa dan dukungannya baik di tribun lapangan maupun yang ada di belakang layar televisi.

Babak 3 dimulai,pertandingan makin sengit antar aku dan lawanku.Penonton makin gregetan karena pertandingan yang seru ini.

Sorak-sorak dari penonton semakin kencang.

Akhirnya setelah beberapa lama aku dapat mengalahkan perwakilan dari Korea ini.Para penonton yang ada di tribun pun memberikan standing applause kepada keduanya.Penonton yang nonton bareng di Indonesia merayakan kemenangan dengan sangat bangga.

Medali emas di Olimpiade Barcelona tahun 1992 pun diraih olehku.

 

Beberapa tahun kemudian

 

Puncaknya di tahun 1995, sebagai seorang keturunan Tionghoa Susi merasa resah karena status kewarganegaraannya masih tidak jelas. Padahal dia sudah membawa harum nama Indonesia di mata internasional lewat bulu tangkis. Belum lagi media yang membahas hubungan asmaranya(pernikahan) dengan Alan mempengaruhi prestasinya.

Ketika masih menjadi pemain, aku berusaha menjadikan diriku sebagai contoh bagi para pemain lainnya. Aku sangat berdisiplin dengan waktu saat berlatih atau di luar latihan. Sementara di lapangan iaku memperlihatkan semangat pantang menyerah sebelum pertandingan berakhir. “Saya hanya berharap teman-teman pemain mengikuti yang baik-baik dari saya,” kataku.

Nyatanya, cara ini tidak melulu berhasil. Sepeninggal aku (dan Mia Audina), sektor putri bulutangkis Indonesia mandek. Piala Uber semakin jauh dan puncaknya, tidak satu pun pemain tunggal puteri Indonesia lolos ke Olimpiade Athena 2004.

Aku yang telah mundur mengakui merosotnya prestasi karena memang kekurangan bibit pemain unggul. “Kita bisa saja memberi prasayarat pemain untuk berhasil, tetapi kalau bibitnya tidak ada bagaimana?” Saya melihat popularitas bulutangkis semakin merosot sementara proses seleksi melalui kejuaraan antarklub dan daerah semakin sedikit.

 

 

 

 

Merasa Sedih

Aku merasa sedih karena olahraga bulutangkis tidak lagi dipandang antusias oleh masyarakat. Aki mengingat betapa antusiasnya masyarakat menyambut kejuaraan bulutangkis seperti All England. Melihat hal ini disebabkan karena perhatian anak-anak muda masa kini lebih ke hiburan. Belum lagi maraknya kasus penyalahgunaan obat terlarang, seperti sabu dan narkotika lainnya. Masyarakat juga lebih banyak membaca, mendengar, menyaksikan berita kekalahan pebulutangkis Indonesia lewat media massa.

Itu tentu berbeda dengan era Tan Joe Hok cs, Liem Swie King, hingga Ardy B Wiranata cs yang banjir mahkota juara.

Keadaan semakin rumit karena orang takut serius terjun di dunia olahraga Indonesia karena tidak jelasnya jaminan akan masa depan. Aku sendiri sudah berniat tidak akan mengijinkan anaknya terjun ke dunia olahraga mengingat pengalamannya dulu. Aku melihat banyak rekannya yang pernah menjadi juara SEA Games, Asian Games, namun hidupnya terkatung-katung.

Selain itu, menjadi atlet olahraga membutuhkan banyak resiko misalnya sekolah yang terhenti, padahal olahraga yang ditekuni tidak mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah. Aku sendiri terpaksa mengorbankan sekolah (hanya sampai SMA).  Menghadapi banyak halangan sebab ada pihak-pihak dari organisasi yang tidak menyukainya. Meski aku berprestasi namun kemudian berhenti, dari situlah imendapat pengalaman bahwa bulutangkis belum bisa menjamin masa depannya.

Berharap bagi para atet berprestasi yang sudah tidak bermain diberikan dana pensiun yang memadai. Aku khawatir kalau persoalan masa depan atlet belum terpecahkan atau tidak ada jaminan dari pemerintah, bibit-bibit potensial atlet akan sulit ditemukan karena mereka akan memilih jalur pendidikan. “Saya harap PBSI dan KONI memerhatikan persoalan ini. Kalau ini dibiarkan terus, hasilnya akan seperti sekarang ini,” ucapku sambil berhadap.

Aku menyesalkan masalah pembinaan yang membuat olahraga semakin terpuruk. Selama ini, hanya kesadaran dari keluarga masing-masing yang ingin anaknya menjadi pemain bukan karena pemerintah ingin memajukan olahraga. Pemerintah dan PBSI hanya menunggu, bukan membina dari daerah, memantau, mencari yang berbakat, baru diambil. Mereka hanya terima jadi saja. Tanggapan saya, semua orangtua saat ini akan seratus kali berpikir untuk membiarkan anaknya menjadi atlet.

Mengaku mempunyai pengalaman yang mengecewakan terutama dalam organisasi. Ketika saya dan Alan berprestasi, ada pihak-pihak tertentu yang tidak senang. Mereka berusaha membagi bonus kepadaku dan Alan dengan asumsi mereka berdua dianggap satu orang. Hal ini menunjukkan sikap tidak profesional pemerintah maupun PBSI yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu.

Dari segi organisasi internal, aku berharap agar orang-orang yang terlibat di PBSI (Persatuan Bulutangkis seluruh Indonesia) adalah orang yang benar-benar ingin memajukan perbulutangkisan, bukan untuk kepentingan pribadi.

Melihat keadaan dunia olahraga yang belum menjanjikan bagi para atlit, aku belajar dari pengalaman kakak-kakak seniornya. Belajar me-manage keuangannya. Saat meraih berbagai prestasi dan hadiah seperti bonus,  diusahakan untuk diinvestasikan ke dalam bentuk tanah, rumah atau tabungan. Susi tahu bahwa prestasi olahragawan itu singkat dan tidak selamanya berada di atas.

Kedua orang tuanya pun sering berpesan agar Susi tidak sombong dan hidup sederhana. Susi juga banyak mendapat masukan dari Ir. Ciputra, seorang pengusaha sukses yang dulu merupakan pimpinannya di Klub Bulutangkis Jaya Raya, agar mempergunakan waktu sebaik mungkin dan giat berprestasi sebisa mungkin.

 

Mulai dari Nol

Ketika berhenti dari dunia bulutangkis, Aku harus memulai dari nol lagi. Meski ada modal dari pendapatan saat aktif di bulutangkis, Susi masih harus belajar dan bersabar mencari usaha apa yang akan ia jalankan. Suaminya, Alan Budikusuma, berulang kali mencoba berbagai jalan untuk menghidupi keluarga mulai dari jual beli mobil, dibantu menjadi rekanan di sebuah instansi, belajar menjadi agen Gozen (alat olahraga bikinan Malaysia) dan menjadi pelatih di Pelatnas. Itu semua menjadi bukti bahwa bahwa setelah tidak berprestasi, mereka berdua harus memulai lagi dari nol.

Untunglah, aku dan Alan mendapat dukungan dari orang-orang  terdekat. Sedikit demi sedikit kami belajar menimba pengalaman dan pengetahuan. Baru sekitar satu setengah tahun, kami bisa berdiri sendiri dan mempunyai keyakinan membuat usaha sendiri.

Sebagai ibu rumah tangga yang mengasuh tiga orang anak, anak pertama perempuan bernama Lourencia Averina, sedangkan yang kedua dan ketiga adalah lelaki; Albertus Edward dan Sebastianus Frederick, aku juga ingin ikut membantu keluarga. Bila anak-anakku sekolah, aku ingin mempunyai kesibukan tetapi tidak menyita waktu untuk keluarga.

Oleh karena itu, aku membuka toko di ITC Mega Grosir Cempaka Mas dengan nama D&V dari nama kedua anaknya, Edward dan Verin. Aku menjual baju-baju dari Cina, Hongkong, dan Korea, dan sebagian produk lokal.

Sebagai mantan atlit bulutangkis, peraih penghargaan tertinggi bulutangkis dari International Badminton Federation (IBF) ‘Hall of Fame’ 2004 ini tetap peduli dengan dunia yang pernah membesarkannya ini. Bersama suamiku, Alan Budi Kusuma – peraih medali emas Olimpiade 1992 pula – aku mendirikan Olympic Badminton Hall di Kelapa Gading. Di gedung pusat pelatihan bulutangkis ini, saya berharap akan muncul bibit pemain yang akan mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia.

Selain itu, pada pertengahan tahun 2002, Kami (Susi dan Alan) membuat raket dengan merek sendiri yaitu Astec, Alan-Susi Technology. Meski pabriknya ada di Taiwan, tetapi senar yang digunakan adalah senar Jepang. Cara pembuatan dan sebagainya, dikontrol oleh kami sendiri. Pada awalnya mereka mencoba produknya ke teman-teman mereka untuk mencari tahu produk mana yang paling bisa diterima. Baru setelah itu, produk dipasarkan.

Saat yang tak terlupakan bagiku adalah saat  berhasil menyumbangkan emas Olimpiade yang pertama bagi Indonesia di Barcelona (Olimpiade Barcelona 1992) bersama Alan Budikusuma yang juga mendapatkan emas. Sedangkan yang paling mengesalkan bagiku adalah saat  kalah hanya satu poin dari Sarwendah (Kusumawardhani) di final Piala Dunia di Jakarta.

 

 

 

 

 

 Langganan Juara setelah Tangan Dipegang Nenek Misterius

Turnamen bulutangkis All England meninggalkan kesan mendalam bagiku. All England sangat berarti dalam perjalanan karirku.

Karir bulutangkisku berhenti sejak 1997, bertepatan dengan kehamilan anak pertama. Namaku Susi kembali beredar setelah PB PBSI menunjuknya menjadi manajer Tim Uber Indonesia.

Semasa menjadi pemain, aku sangat melegenda di peta persaingan tunggal wanita. Seabrek gelar dikoleksi .Di turnamen All England, aku empat kali tampil di podium juara tungal wanita edisi 1990, 1991, 1993, dan 1994.

”Dalam dua tahun pertama keikutsertaan saya di All England, ada kisah yang tak bisa dilupakan hingga saat ini,” kenangku.

Pada 1988, kali pertama aku mengikuti All England. Sayang, dalam kiprah perdana di turnamen bulutangkis tertua tersebut, belum berhasil menuai gelar juara. ”Saya sedih dan menangis waktu itu. Lantas, saya lari ke gereja terdekat yang kebetulan sedang menggelar komuni,” ucapku.Biasanya dalam acara tersebut, masing-masing pendoa, termasuk aku, hanya dijatah satu roti dari pendeta yang memimpin komuni. Namun, entah kenapa aku mendapatkan dua roti sekaligus. ”Saya juga kaget, biasanya hanya diberi satu-satu. Tetapi, kok waktu itu saya dapat dua. Kalau sudah menerima, harus dimakan, tidak boleh dikembalikan,” tutur aku pencetak enam kali juara final Grand Prix .

Tak disangka, setahun kemudian,kembali lagi ke All England. Meski belum menuai predikat juara, aku mampu melaju ke final dan dikandaskan andalan Tiongkok Li Lingwei. Nah, pada 1989 itu, aku memiliki cerita menarik. Bertemu dengan wanita lanjut usia sesaat setelah kontingen Indonesia tiba di London.

Kala itu, pertandingan masih dihelat di Wembley Arena, London. ”Kebetulan, kami bertiga, Koh Tong (Tong Sin Fu, pelatih Indonesia), Sarwendah, dan saya cari makan di McDonald’s yang lokasinya dekat dengan hotel,” ucap Susi memulai cerita.

Rasa lapar sangat mengganggu karena cuaca bersalju dan dingin sekali. Usai makan dan kembali ke hotel, kita dicegat seorang nenek yang menanti belas kasihan di pinggir jalan. Tong pun meminta anak asuhnya itu untuk memberikan uang receh kepada nenek tersebut. Namun, nenek itu tak mau menerima lebih dari 1 pounsdterling.

”Saya ingin sekali memberinya 5 pounsdterling. Dia nggak mau terima. Eh, tangan saya dipegang. Saya kaget dan ada rasa takut juga. Kok, nenek itu tangannya hangat, padahal salju mulai turun dan dingin sekali,” bebernya.

Rasa kaget itu membuatku lebih ingin memperhatikan raut muka sang nenek. Dia tak peduli meski rekan-rekanku telah meninggalkanku dan kembali ke hotel. Entah kenapa, Susi ingin meneteskan air mata karena terharu. Saya pun berlari ke hotel untuk mencari Alan Budikusuma yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun.

Dengan tersengal-sengal, Susi menyampaikan keinginan agar Alan mau mendatangi nenek misterius tersebut dan memberikan lebih banyak uang. Sayang, usaha Alan sia-sia. Sesampainya di tempat itu, Alan tak lagi menemukan nenek tersebut. ”Mungkin orang lain menganggap itu hal biasa. Tetapi setelah itu, tangan saya benar-benar membuahkan prestasi,” kata saya.

Semua itu, berkah sang pencipta yang memberikan kekuatan kepadanya untuk menorehkan sejarah indah bagi Indonesia. Kenangan di lapangan tentu lebih indah. ”Wembley Arena sangat megah. Penontonnya sangat santun dalam memberikan support,” ujarku.

Sayang, setelah penampilan terakhirnya di All England pada 1997, akutak lagi sempat menengok turnamen tertua itu. ”Sudah kenyang dulu ke sana, sekarang membayangkan naik pesawatnya saja sudah malas,” kataku. 

13 komentar:

  1. Teks cerita sejarah tersebut sudah lengkap dan sesuai dengan struktur

    BalasHapus
  2. Teks nya sudah bagus, pemilihan katanya sudah bagus dan sesuai struktur

    BalasHapus
  3. struktur teks sesuai dan sangat menginspirasi 🔥🔥 Susi susanti adalah salah satu idola saya terlebih ketika dia menjabat sebagai menteri kelautan

    BalasHapus
  4. Bagus teksnya enak dibaca, tanda bacanya jelas serta sesuai struktur

    BalasHapus
  5. Keren banget rizki, ceritanya seru, menarik, memotivasi dan saya suka pemilihan katanya dan mudah dipahami. Pengunaan bahasanya ringan serta tidak berbelit-belit, imajinasi penulis tersampaikan ke pembaca. Semangat berkarya!! (≧∀≦)

    BalasHapus
  6. Ceritanya menarik dan bagus 👍

    BalasHapus
  7. struktur teks cerita sejarahnya sudah lengkap, pemilihan kata yang digunakan juga mudah untuk dipahami, alur ceritanya sangat menarik untuk dibaca

    BalasHapus
  8. Ceritanya sangat bagus serta penggunaan kaidah kebahasaan seperti kata bermakna lampau, majas, dan kalimat langsung sudah sangat baik👍

    BalasHapus
  9. ceritanya menarik dan sangat menginspirasi. Penggambaran tokoh serta srukturnya sudah jelas. Struktur dan kaidah kebahasaan juga sudah sesuai

    BalasHapus
  10. Ceritanya keren mengangkat tokoh yang tidak banyak dikenal jadi bisa memberi informasi yang baru

    BalasHapus
  11. Ceritanya menarik membuat seolah saya ikut serta didalamnya

    BalasHapus
  12. Cerita yang disajikan menarik. Pembawaan cerita dengan penggambaran peristiwa yang spesifik sudah baik. Struktur dan kaidah kebahasaan sudah baik.

    BalasHapus

NOVEL WAKTU

  Waktu     Nama : Rizki Ramadhani  Kelas  : XII MIPA 10 No absen : 29 Pengantar ...