NAMA : RIZKI RAMADHANI
KELAS : XII MIPA 10
NO ABSEN : 29
Masa keemasannya yang berlangsung cukup panjang,
berpuncak pada juara tunggal putri bulutangkis Olimpiade Barcelona, Spanyol
(1992). Dia peraih emas pertama Indonesia di Olimpiade. Ketika itu Alan,
pacarnya, juga juara di tunggal putra sehingga media asing menjuluki mereka
sebagai “Pengantin Olimpiade”. Predikat pengantin ini rupanya terus melekat,
terbukti saat mereka dipercaya menjadi pembawa obor Olimpiade Athena 2004.
Prestasi yang mengharumkan nama bangsa juga diukir
oleh Susi dengan meraih sederetan kejuaraan. Dia menjuarai All England empat
kali (1990, 1991, 1993, 1994). Sang juara yang punya semangat pantang menyerah
ini selalu menjadi ujung tombak tim Piala Sudirman dan Piala Uber. Juga juara
dunia (1993) dan puluhan gelar seri grand prix.
Kiprah Susi Susanti di dunia olahraga bulutangkis
Indonesia memang luar biasa. Dalam setiap pertandingan, ia menunjukkan sikap
tenang bahkan terlihat tanpa emosi di saat-saat angka penentuan. Semangatnya
yang pantang menyerah meski angkanya tertinggal jauh dari lawan membuat banyak
pendukungnya menaruh percaya bahwa Susi pasti menang.
Berkat kegigihan dan ketekunannya, perempuan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Februari 1971 ini turut menyumbang kesuksessan tahun 1989 ketika Piala Sudirman direbut tim Indonesia untuk pertama kalinya dan sampai sekarang belum lagi berulang. Dia pun turut menorehkan sukses saat merebut Piala Uber tahun 1994 dan 1996 setelah piala itu absen lama dari Indonesia.
JUARA
YANG DILUPAKAN
Semenjak SD, aku sudah suka bermain bulutangkis.Tepatnya
pada saat ada kegiatan lomba 17 Agustusan di kampungku.Awalnya aku diajak oleh
ibuku untuk mengikuti lomba menari.”Susi,Susiii !!! ”teriak ibuku mencariku
yang kabur dari tempat lomba menari menuju lomba bulutangkis.Pada saat itu
kakakku sedang bermain di final melawan jawara di kampungku.Akhirnya kakakku
kalah lalu sang jawara bernama Udin mengejek kepada kakakku.
”Katanya bapaknya atlit,tapi anaknya mainnya jelek,bias
juara apa ? “ ucap si Udin.
”Anaknya yang atlit itu ada dua,tau gak?ayo lawanku,taruhannya
raket itu(sambil menunjuk ke raket hasil juara si Udin),kamu berani gak? “
ucapku ke si Udin.
“Kalau kalah kamu mau ngasih apa “ ucap
Udin.
“Bakpau satu gerobak(sambil menunjuk ke
tukang bakpau di pinggir lapang).” ucapku.
(Penonton bersorak)
“Susi,Susi,Susi !!! ” penonton bersorak.
Permainan berjalan dengan sengit,akhirnya
aku memenangkan pertandingannya.Penonton pun bersorak-sorak karena tidak ada
yang mengira si Udin bakal kalah,lalu si Udin pun malu.
Beberapa hari kemudian disuatu
malam,bapakku dan ibuku sedang merundingkan tentang karir bulutangkis anaknya.
“Pak gimana tuh si Susi malah jadi suka
ke badminton”ucap ibuku.
“Tapi tadi si Susi menang loh mah,lawan
jawara Tasik lagi “ ucap bapakku .
“Jadi bapak tuh mau si Susi atau si Lury
sih ?”
(Tiba-tiba telepon rumah berdering)
Ring...ring…ring
Bapakku mengangkatnya lalu
terkaget,karena telepon itu berasal dari tim Jayaraya di Jakarta.
Mereka menawarkan kepada Susi untuk
bergabung dengan timnya.Akhirnya aku dan orangtuaku setuju untuk menerima
tawaran itu.Kebetulan orang tuaku juga sangat
mendukung dan memberi kebebasan untuk menjadi atlit bulutangkis. Setelah menang
kejuaraan junior, orangtuaku mengajak pindah dari Tasikmalaya ke Jakarta. Meski
saat itu masih duduk di bangku 2 SMP, aku sudah mulai berpikir untuk serius di
dunia bulutangkis.
Beberapa bulan kemudian
Kegiatanku berbeda dengan remaja lain karena aku
tinggal di asrama dan bersekolah di sekolah khusus untuk atlit. Aku menjadi
kuper karena hanya berteman dengan sesama atlit. Bahkan pacaran pun dengan
atlit.
Sebagai atlit, jadwal latihannya sangat padat dan
juga pola latihan yang keras dialami olehku. Enam hari dalam seminggu, Senin –
Sabtu dari jam 7 sampai jam 11 pagi, lalu disambung lagi jam 3 sore sampai jam
7 malam. Makan, jam tidur dan pakaianku juga ada aturannya tersendiri. Aku
tidak diperbolehkan memakai sepatu dengan hak tinggi agar kakiku terhindar dari
kemungkinan keseleo. Jalan-jalan ke mal pun hanya bisa dilakukannya pada hari
Minggu. Itu pun jarang karena sudah terlalu capek latihan.
Memang tidak ada pilihan lain, aku harus disiplin
dan berkonsentrasi untuk menjadi juara. Akhirnya menyadari bahwa untuk meraih
prestasi memang perlu perjuangan dan pengorbanan. “Kalau mau santai dan
senang-senang terus, mana mungkin cita-cita saya untuk jadi juara bulutangkis
tercapai? Sekarang rasanya puas banget melihat pengorbanan saya ada hasilnya.
Ternyata benar juga kata pepatah: Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang
kemudian,” kataku .
Bertahun-tahun kemudian,aku pun terus tumbuh dewasa.
Setelah memenangkan World Championship Junior 1985,
aku pun melangkah ke pelatihan nasional PBSI dan semakin matang. Aku dilatih
oleh Tong Sin Fu (Chew Kinwah) dan Liang Chu Sia (Jenny Chang). Di sana juga
aku bertemu teman-teman atlet seperti Alan Budikusuma (Dion Wiyoko), Ardy B.
Wiranata (Nathaniel Sulistyo), Hermawan Susanto (Rafael Tan), Sarwendah
Kusumawardhani (Kelly Tandiono).
Susi pun meraih beragam prestasi, mulai dari, medali
emas di Sudirman Cup Jakarta tahun 1989, medali emas di World Cup Guangzhou tahun 1989.
Sebelum aku mengikuti Olimpiade di
Barcelona,wartawan dari berbagai media menjudge aku.Karena performaku di
turnamen-turnamen sebelumnya menurun drastis.Aku hampir menyerah karena
ucapan-ucapan di berbagai media sangat menyakitkan bagiku.Untungnya perwakilan
PBSI berbicara kepada media.
“Seharusnya kalian(para media) jangan menyinggung urusan pribadi para
pemain,karena para pemain sudah berkerja secara maksimal.Pemain-pemain kita
hanya butuh dukungan semangat dari kalian.Kita kalah karena lawan kita bermain
dengan baik.”ucap ketua PBSI.
Olimpiade Barcelona pun dimulai,step by
step,pertandingan demi pertandingan aku lewati.Akhirnya aku masuk sampai tahap
final.Di final ini aku akan berhadapan dengan perwakilan dari Korea,tetapi aku
malah makin takut.Aku masih terbayang-bayang dengan hujatan-hujatan yang
diberikan kepadaku di media.
Semalam sebelum pertandingan aku menelepon ke
bapakku.
“Halo Susiii”ucap bapakku.
Tetapi aku hanya diam merenung saja
“Ada masalah apa Sus?”
“Aku takut”ucapku.
“Halo takut,apa kabar?sudah lama kita tidak
bertemu.Aku ingat kamu berkunjung di masaku dulu.Takut sekarang kamu sedang
menemani Susi ya.Tolong jagain dia ya takut,dia belum kenal kamu takut,selama
ini dia belum menerimamu,karena belum tahu kamu bisa dijadikan sahabat,bahwa
kamu dapat menjadi tuan rumah yang baik,memancarkan persamaan di dalam
perbedaan,menyampingkan perbedaan demi
kebersamaan,melupakan kerasnya hidup walau cuma sesaat dan yang paling
penting bisa melepes keberanian kita yang terpendam,siap atau tidak siap.Sus
keberanian bukan berarti tidak punya rasa takut,tapi ketika dihadapan si
takut,kamu tahu bersama siapa menghadapinya kamu tidak sendirian,kita yang
menemani ”bapakku menghiburku.
Akupun hanya tertunduk lesu,merenungkan ucapan
bapak.
Telepon pun putus sambungan
Hari final pun tiba,seluruh elemen masyarakat
menyempatkan untuk menonton partai final Olimpiade Barcelona ini.
Di babak 1 aku bermain buruk sehingga aku kehilangan
poin di game pertama,penonton pun kecewa.
Di jeda babak ke 2 aku membayangkan perkataan bapak
semalam,aku terus memikirkannya dan itu membuat suntikan semangat alami.Aku
sangat bersemangat untuk melanjutkan pertandingan.Babak kedua dimulai aku
mendominasi permainan,poin demi pon aku dapatkan.Lawanku tidak berkutik di babak
kedua 2 ini akhirnya aku memaksa lawan untuk bermain Rubber Game(Babak 3).
(Penonton mulai semangat lagi,mereka membantuku
dengan doa dan dukungannya baik di tribun lapangan maupun yang ada di belakang
layar televisi.
Babak 3 dimulai,pertandingan makin sengit antar aku
dan lawanku.Penonton makin gregetan karena pertandingan yang seru ini.
Sorak-sorak dari penonton semakin kencang.
Akhirnya setelah beberapa lama aku dapat mengalahkan
perwakilan dari Korea ini.Para penonton yang ada di tribun pun memberikan standing
applause kepada keduanya.Penonton yang nonton bareng di Indonesia merayakan
kemenangan dengan sangat bangga.
Medali emas di Olimpiade Barcelona tahun 1992 pun
diraih olehku.
Beberapa tahun kemudian
Puncaknya di tahun 1995, sebagai seorang keturunan
Tionghoa Susi merasa resah karena status kewarganegaraannya masih tidak jelas.
Padahal dia sudah membawa harum nama Indonesia di mata internasional lewat bulu
tangkis. Belum lagi media yang membahas hubungan asmaranya(pernikahan) dengan
Alan mempengaruhi prestasinya.
Ketika masih menjadi pemain, aku berusaha menjadikan
diriku sebagai contoh bagi para pemain lainnya. Aku sangat berdisiplin dengan
waktu saat berlatih atau di luar latihan. Sementara di lapangan iaku
memperlihatkan semangat pantang menyerah sebelum pertandingan berakhir. “Saya
hanya berharap teman-teman pemain mengikuti yang baik-baik dari saya,” kataku.
Nyatanya, cara ini tidak melulu berhasil.
Sepeninggal aku (dan Mia Audina), sektor putri bulutangkis Indonesia mandek.
Piala Uber semakin jauh dan puncaknya, tidak satu pun pemain tunggal puteri
Indonesia lolos ke Olimpiade Athena 2004.
Aku yang telah mundur mengakui merosotnya prestasi
karena memang kekurangan bibit pemain unggul. “Kita bisa saja memberi
prasayarat pemain untuk berhasil, tetapi kalau bibitnya tidak ada bagaimana?” Saya
melihat popularitas bulutangkis semakin merosot sementara proses seleksi
melalui kejuaraan antarklub dan daerah semakin sedikit.
Merasa Sedih
Aku merasa sedih karena olahraga bulutangkis tidak
lagi dipandang antusias oleh masyarakat. Aki mengingat betapa antusiasnya
masyarakat menyambut kejuaraan bulutangkis seperti All England. Melihat hal ini
disebabkan karena perhatian anak-anak muda masa kini lebih ke hiburan. Belum
lagi maraknya kasus penyalahgunaan obat terlarang, seperti sabu dan narkotika
lainnya. Masyarakat juga lebih banyak membaca, mendengar, menyaksikan berita
kekalahan pebulutangkis Indonesia lewat media massa.
Itu tentu berbeda dengan era Tan Joe Hok cs, Liem
Swie King, hingga Ardy B Wiranata cs yang banjir mahkota juara.
Keadaan semakin rumit karena orang takut serius
terjun di dunia olahraga Indonesia karena tidak jelasnya jaminan akan masa
depan. Aku sendiri sudah berniat tidak akan mengijinkan anaknya terjun ke dunia
olahraga mengingat pengalamannya dulu. Aku melihat banyak rekannya yang pernah
menjadi juara SEA Games, Asian Games, namun hidupnya terkatung-katung.
Selain itu, menjadi atlet olahraga membutuhkan
banyak resiko misalnya sekolah yang terhenti, padahal olahraga yang ditekuni
tidak mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah. Aku sendiri terpaksa
mengorbankan sekolah (hanya sampai SMA).
Menghadapi banyak halangan sebab ada pihak-pihak dari organisasi yang
tidak menyukainya. Meski aku berprestasi namun kemudian berhenti, dari situlah
imendapat pengalaman bahwa bulutangkis belum bisa menjamin masa depannya.
Berharap bagi para atet berprestasi yang sudah tidak
bermain diberikan dana pensiun yang memadai. Aku khawatir kalau persoalan masa
depan atlet belum terpecahkan atau tidak ada jaminan dari pemerintah,
bibit-bibit potensial atlet akan sulit ditemukan karena mereka akan memilih
jalur pendidikan. “Saya harap PBSI dan KONI memerhatikan persoalan ini. Kalau
ini dibiarkan terus, hasilnya akan seperti sekarang ini,” ucapku sambil
berhadap.
Aku menyesalkan masalah pembinaan yang membuat
olahraga semakin terpuruk. Selama ini, hanya kesadaran dari keluarga
masing-masing yang ingin anaknya menjadi pemain bukan karena pemerintah ingin
memajukan olahraga. Pemerintah dan PBSI hanya menunggu, bukan membina dari
daerah, memantau, mencari yang berbakat, baru diambil. Mereka hanya terima jadi
saja. Tanggapan saya, semua orangtua saat ini akan seratus kali berpikir untuk
membiarkan anaknya menjadi atlet.
Mengaku mempunyai pengalaman yang mengecewakan terutama
dalam organisasi. Ketika saya dan Alan berprestasi, ada pihak-pihak tertentu
yang tidak senang. Mereka berusaha membagi bonus kepadaku dan Alan dengan
asumsi mereka berdua dianggap satu orang. Hal ini menunjukkan sikap tidak
profesional pemerintah maupun PBSI yang mempunyai kepentingan-kepentingan
tertentu.
Dari segi organisasi internal, aku berharap agar
orang-orang yang terlibat di PBSI (Persatuan Bulutangkis seluruh Indonesia)
adalah orang yang benar-benar ingin memajukan perbulutangkisan, bukan untuk
kepentingan pribadi.
Melihat keadaan dunia olahraga yang belum
menjanjikan bagi para atlit, aku belajar dari pengalaman kakak-kakak seniornya.
Belajar me-manage keuangannya. Saat meraih berbagai prestasi dan hadiah seperti
bonus, diusahakan untuk diinvestasikan
ke dalam bentuk tanah, rumah atau tabungan. Susi tahu bahwa prestasi
olahragawan itu singkat dan tidak selamanya berada di atas.
Kedua orang tuanya pun sering berpesan agar Susi
tidak sombong dan hidup sederhana. Susi juga banyak mendapat masukan dari Ir.
Ciputra, seorang pengusaha sukses yang dulu merupakan pimpinannya di Klub
Bulutangkis Jaya Raya, agar mempergunakan waktu sebaik mungkin dan giat
berprestasi sebisa mungkin.
Mulai dari Nol
Ketika berhenti dari dunia bulutangkis, Aku harus
memulai dari nol lagi. Meski ada modal dari pendapatan saat aktif di
bulutangkis, Susi masih harus belajar dan bersabar mencari usaha apa yang akan
ia jalankan. Suaminya, Alan Budikusuma, berulang kali mencoba berbagai jalan
untuk menghidupi keluarga mulai dari jual beli mobil, dibantu menjadi rekanan
di sebuah instansi, belajar menjadi agen Gozen (alat olahraga bikinan Malaysia)
dan menjadi pelatih di Pelatnas. Itu semua menjadi bukti bahwa bahwa setelah
tidak berprestasi, mereka berdua harus memulai lagi dari nol.
Untunglah, aku dan Alan mendapat dukungan dari
orang-orang terdekat. Sedikit demi
sedikit kami belajar menimba pengalaman dan pengetahuan. Baru sekitar satu
setengah tahun, kami bisa berdiri sendiri dan mempunyai keyakinan membuat usaha
sendiri.
Sebagai ibu rumah tangga yang mengasuh tiga orang
anak, anak pertama perempuan bernama Lourencia Averina, sedangkan yang kedua
dan ketiga adalah lelaki; Albertus Edward dan Sebastianus Frederick, aku juga
ingin ikut membantu keluarga. Bila anak-anakku sekolah, aku ingin mempunyai
kesibukan tetapi tidak menyita waktu untuk keluarga.
Oleh karena itu, aku membuka toko di ITC Mega Grosir
Cempaka Mas dengan nama D&V dari nama kedua anaknya, Edward dan Verin. Aku menjual
baju-baju dari Cina, Hongkong, dan Korea, dan sebagian produk lokal.
Sebagai mantan atlit bulutangkis, peraih penghargaan
tertinggi bulutangkis dari International Badminton Federation (IBF) ‘Hall of
Fame’ 2004 ini tetap peduli dengan dunia yang pernah membesarkannya ini.
Bersama suamiku, Alan Budi Kusuma – peraih medali emas Olimpiade 1992 pula –
aku mendirikan Olympic Badminton Hall di Kelapa Gading. Di gedung pusat
pelatihan bulutangkis ini, saya berharap akan muncul bibit pemain yang akan
mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia.
Selain itu, pada pertengahan tahun 2002, Kami (Susi
dan Alan) membuat raket dengan merek sendiri yaitu Astec, Alan-Susi Technology.
Meski pabriknya ada di Taiwan, tetapi senar yang digunakan adalah senar Jepang.
Cara pembuatan dan sebagainya, dikontrol oleh kami sendiri. Pada awalnya mereka
mencoba produknya ke teman-teman mereka untuk mencari tahu produk mana yang
paling bisa diterima. Baru setelah itu, produk dipasarkan.
Saat yang tak terlupakan bagiku adalah saat berhasil menyumbangkan emas Olimpiade yang
pertama bagi Indonesia di Barcelona (Olimpiade Barcelona 1992) bersama Alan
Budikusuma yang juga mendapatkan emas. Sedangkan yang paling mengesalkan bagiku
adalah saat kalah hanya satu poin dari
Sarwendah (Kusumawardhani) di final Piala Dunia di Jakarta.
Langganan
Juara setelah Tangan Dipegang Nenek Misterius
Turnamen bulutangkis All England meninggalkan kesan
mendalam bagiku. All England sangat berarti dalam perjalanan karirku.
Karir bulutangkisku berhenti sejak 1997, bertepatan
dengan kehamilan anak pertama. Namaku Susi kembali beredar setelah PB PBSI
menunjuknya menjadi manajer Tim Uber Indonesia.
Semasa menjadi pemain, aku sangat melegenda di peta
persaingan tunggal wanita. Seabrek gelar dikoleksi .Di turnamen All England,
aku empat kali tampil di podium juara tungal wanita edisi 1990, 1991, 1993, dan
1994.
”Dalam dua tahun pertama keikutsertaan saya di All
England, ada kisah yang tak bisa dilupakan hingga saat ini,” kenangku.
Pada 1988, kali pertama aku mengikuti All England.
Sayang, dalam kiprah perdana di turnamen bulutangkis tertua tersebut, belum
berhasil menuai gelar juara. ”Saya sedih dan menangis waktu itu. Lantas, saya
lari ke gereja terdekat yang kebetulan sedang menggelar komuni,” ucapku.Biasanya
dalam acara tersebut, masing-masing pendoa, termasuk aku, hanya dijatah satu
roti dari pendeta yang memimpin komuni. Namun, entah kenapa aku mendapatkan dua
roti sekaligus. ”Saya juga kaget, biasanya hanya diberi satu-satu. Tetapi, kok
waktu itu saya dapat dua. Kalau sudah menerima, harus dimakan, tidak boleh
dikembalikan,” tutur aku pencetak enam kali juara final Grand Prix .
Tak disangka, setahun kemudian,kembali lagi ke All
England. Meski belum menuai predikat juara, aku mampu melaju ke final dan
dikandaskan andalan Tiongkok Li Lingwei. Nah, pada 1989 itu, aku memiliki
cerita menarik. Bertemu dengan wanita lanjut usia sesaat setelah kontingen
Indonesia tiba di London.
Kala itu, pertandingan masih dihelat di Wembley
Arena, London. ”Kebetulan, kami bertiga, Koh Tong (Tong Sin Fu, pelatih
Indonesia), Sarwendah, dan saya cari makan di McDonald’s yang lokasinya dekat
dengan hotel,” ucap Susi memulai cerita.
Rasa lapar sangat mengganggu karena cuaca bersalju
dan dingin sekali. Usai makan dan kembali ke hotel, kita dicegat seorang nenek
yang menanti belas kasihan di pinggir jalan. Tong pun meminta anak asuhnya itu
untuk memberikan uang receh kepada nenek tersebut. Namun, nenek itu tak mau
menerima lebih dari 1 pounsdterling.
”Saya ingin sekali memberinya 5 pounsdterling. Dia
nggak mau terima. Eh, tangan saya dipegang. Saya kaget dan ada rasa takut juga.
Kok, nenek itu tangannya hangat, padahal salju mulai turun dan dingin sekali,”
bebernya.
Rasa kaget itu membuatku lebih ingin memperhatikan
raut muka sang nenek. Dia tak peduli meski rekan-rekanku telah meninggalkanku
dan kembali ke hotel. Entah kenapa, Susi ingin meneteskan air mata karena
terharu. Saya pun berlari ke hotel untuk mencari Alan Budikusuma yang sudah
menjadi kekasihnya selama dua tahun.
Dengan tersengal-sengal, Susi menyampaikan keinginan
agar Alan mau mendatangi nenek misterius tersebut dan memberikan lebih banyak
uang. Sayang, usaha Alan sia-sia. Sesampainya di tempat itu, Alan tak lagi
menemukan nenek tersebut. ”Mungkin orang lain menganggap itu hal biasa. Tetapi
setelah itu, tangan saya benar-benar membuahkan prestasi,” kata saya.
Semua itu, berkah sang pencipta yang memberikan
kekuatan kepadanya untuk menorehkan sejarah indah bagi Indonesia. Kenangan di
lapangan tentu lebih indah. ”Wembley Arena sangat megah. Penontonnya sangat
santun dalam memberikan support,” ujarku.
Sayang, setelah penampilan terakhirnya di All
England pada 1997, akutak lagi sempat menengok turnamen tertua itu. ”Sudah
kenyang dulu ke sana, sekarang membayangkan naik pesawatnya saja sudah malas,”
kataku.
Teks cerita sejarah tersebut sudah lengkap dan sesuai dengan struktur
BalasHapusTeks nya sudah bagus, pemilihan katanya sudah bagus dan sesuai struktur
BalasHapusstruktur teks sesuai dan sangat menginspirasi 🔥🔥 Susi susanti adalah salah satu idola saya terlebih ketika dia menjabat sebagai menteri kelautan
BalasHapusTeksnya sangat bagus👍
BalasHapusBagus teksnya enak dibaca, tanda bacanya jelas serta sesuai struktur
BalasHapusKeren banget rizki, ceritanya seru, menarik, memotivasi dan saya suka pemilihan katanya dan mudah dipahami. Pengunaan bahasanya ringan serta tidak berbelit-belit, imajinasi penulis tersampaikan ke pembaca. Semangat berkarya!! (≧∀≦)
BalasHapusCeritanya menarik dan bagus 👍
BalasHapusstruktur teks cerita sejarahnya sudah lengkap, pemilihan kata yang digunakan juga mudah untuk dipahami, alur ceritanya sangat menarik untuk dibaca
BalasHapusCeritanya sangat bagus serta penggunaan kaidah kebahasaan seperti kata bermakna lampau, majas, dan kalimat langsung sudah sangat baik👍
BalasHapusceritanya menarik dan sangat menginspirasi. Penggambaran tokoh serta srukturnya sudah jelas. Struktur dan kaidah kebahasaan juga sudah sesuai
BalasHapusCeritanya keren mengangkat tokoh yang tidak banyak dikenal jadi bisa memberi informasi yang baru
BalasHapusCeritanya menarik membuat seolah saya ikut serta didalamnya
BalasHapusCerita yang disajikan menarik. Pembawaan cerita dengan penggambaran peristiwa yang spesifik sudah baik. Struktur dan kaidah kebahasaan sudah baik.
BalasHapus